SEKOLAH Bisnis dan Manajemen Institut Teknologi Bandung (SBM ITB) menganugerahkan penghargaan Lifetime Achievement – Anugerah Avirama Nawasena kepada mantan Menteri Perhubungan sekaligus mantan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral 2016-2020, Dr. (H.C.) Ignasius Jonan, dalam rangkaian Dies Natalis ke-22 SBM ITB, Rabu, 11 Februari 2026.
Penghargaan tersebut diberikan atas kontribusinya dalam reformasi sektor transportasi publik, tata kelola organisasi, serta kepemimpinan berbasis integritas di berbagai institusi nasional.
Dalam wisdom speech yang disampaikan secara virtual, Jonan mengungkapkan rasa terima kasih atas penghargaan yang diberikan oleh SBM ITB. Ia membuka pidatonya dengan menyampaikan penghormatan kepada Dekan SBM ITB, Dr. Aurik Gustomo dan dewan juri, serta mengaku terharu atas anugerah yang diterimanya.
Jonan mengaku terharu atas apresiasi yang diberikan oleh lingkungan akademik ITB. Menurutnya, ia merasa orang lain lebih layak mendapatkan penghargaan tersebut.
“Saya merasa terharu bahwa SBM ITB memberikan suatu penghargaan yang sebenarnya saya kira saya tidak terlalu layak untuk menerima,” ujarnya mengutip dari situs beritainspiratif.com pada 13 Februari 2026.
Dalam pidato yang ia sampaikan terutama bagi generasi muda dan para pemimpin, Jonan membagikan tiga nasihat utama bagi seluruh civitas akademika SBM ITB.
Jonan menjelaskan bahwa terdapat tiga modal penting dalam membangun kepemimpinan yang berdampak, yakni talenta, pendidikan yang baik, dan pengalaman hidup.
Ia menilai kombinasi dari dua di antara tiga aspek tersebut sudah cukup untuk membentuk pribadi yang bermanfaat bagi banyak orang. Pendidikan memberi kerangka berpikir, pengalaman membentuk ketangguhan, sementara talenta menjadi potensi dasar yang perlu terus diasah.
Pesan pertama yang ia tekankan adalah pentingnya menjadi diri sendiri dalam kepemimpinan. Menurutnya, seorang pemimpin boleh belajar dari tokoh-tokoh besar, namun tetap harus membangun gaya kepemimpinan yang autentik dan berlandaskan nilai personal.
Kemudian, Pesan kedua berkaitan dengan kebermanfaatan bagi orang lain. Ia mendorong agar dalam perjalanan karier dan kehidupan, seseorang berupaya memberikan manfaat semaksimal mungkin kepada sesama. Baginya, orientasi pada kontribusi akan membentuk makna dan arah dalam kepemimpinan.
Lebih lanjut, Pesan selanjutnya, ia menekankan pentingnya keteladanan sebagai inti kepemimpinan. Ia mencontohkan pengalamannya di PT Kereta Api Indonesia (Persero), yang menurutnya tetap berkembang bahkan lebih dari satu dekade setelah ia tidak lagi menjabat.
“Kenapa Kereta Api setelah saya pergi 12 tahun yang lalu sampai hari ini tetap berkembang? Memimpin itu caranya cuma satu, yaitu memberikan contoh, leading by example,” ujarnya.
Menurut Jonan, pendidikan tinggi dan pengalaman yang luas tidak akan berarti apabila seorang pemimpin tidak memberikan teladan nyata.
Tanpa contoh yang konsisten, generasi berikutnya tidak memiliki pegangan yang kuat dalam melanjutkan nilai dan budaya kerja organisasi.
Melalui wisdom speech tersebut, Jonan juga mengajak generasi muda, khususnya mahasiswa SBM ITB, untuk membangun kepemimpinan yang berlandaskan nilai dan tanggung jawab.Ia berharap institusi pendidikan seperti SBM ITB terus melahirkan pemimpin-pemimpin masa depan yang tidak hanya kompeten secara manajerial, tetapi juga memiliki komitmen kuat terhadap kemajuan bangsa.





