Gubernur Koster Tolak Bangun Kasino di Bali Meski Ditawari Cuan Rp100 Triliun

Fachrizal Hutabarat

Gubernur Bali I Wayan Koster menolak tawaran pembangunan kasino senilai Rp100 triliun karena dinilai berisiko merusak budaya Bali yang menjadi roh utama pariwisata dan masa depan ekonomi pulau tersebut.

GUBERNUR Bali, I Wayan Koster (Matematika 1981) menegaskan penolakannya terhadap rencana pembangunan kasino di Pulau Dewata, Bali meskipun sempat diimingi tawaran keuntungan fantastis hingga Rp100 triliun.

Sebelumnya, wacana pembangunan kasino pernah dilontarkan oleh kalangan pengusaha muda di Bali. 

Ketua HIPMI Bali, Ajus Linggih, misalnya, mengklaim bahwa keberadaan kasino bisa menambah Pendapatan Asli Daerah (PAD) hingga Rp11–13 triliun per tahun

Dana tersebut, menurutnya, dapat dipakai untuk menangani persoalan mendesak seperti pengelolaan sampah, pembangunan infrastruktur, pendidikan, dan kesehatan. 

Beberapa pengusaha di Badung pun menyatakan dukungan dengan alasan kasino bisa menjadi sumber pemasukan baru bagi daerah.

“Saya diimingi, kalau ada kasino di Bali bapak langsung bisa dapat Rp100 triliun,” kata Koster di Denpasar, Sabtu 16 Agustus lalu mengutip dari situs kompas.com pada 19 Agustus 2025.

Namun, Koster menilai tawaran itu justru berisiko besar bagi masa depan Bali apabila mengorbankan nilai budaya yang menjadi roh pariwisata di pulau ini. 

“Angkanya memang bagus Rp100 triliun, tapi sekali kita salah langkah menggerus budaya Bali, meninggalkan basis budaya kita untuk pariwisata, kita bisa kehilangan lebih dari Rp100 triliun dan akan mengancam masa depan Bali,” tegasnya.

Koster menekankan bahwa keunggulan Bali justru terletak pada keunikan pariwisata berbasis budaya yang tidak ada tandingannya di dunia. 

Oleh karena itu, Gubernur Koster menilai bahwa arah pembangunan Bali tidak boleh melenceng dari identitas budayanya. 

Ia menolak gagasan bahwa pariwisata Bali harus bersaing melalui hiburan modern seperti kasino, karena 60 persen ekonomi Bali masih bertumpu pada pariwisata berbasis budaya lokal. 

Meskipun tawaran keuntungan Rp100 triliun terdengar menggiurkan, kerugian yang bisa ditimbulkan justru jauh lebih besar apabila budaya Bali terkikis.

Ia pun berpesan agar prinsip menjaga budaya Bali tetap dipegang teguh oleh pemimpin mana pun di masa depan. 

“Di situ saja, jadi kalau itu ke depan siapa pun juga jangan pernah goyah soal budaya ini, sekali kita salah langkah, sangat berbahaya bagi masa depan Bali,” katanya.

Penegasan Koster memperlihatkan bahwa menjaga identitas dan keaslian Bali jauh lebih bernilai dibanding keuntungan finansial besar dari kasino. 

Hingga Juli 2025, jumlah kunjungan wisatawan mancanegara (wisman) ke Bali telah mencapai 4 juta orang, dan dari 1–13 Agustus bertambah lagi 300 ribu, sehingga total sementara mencapai lebih dari 4,3 juta kunjungan

Sektor pariwisata di Bali bahkan diprediksi akan menembus 7,2 juta kunjungan wisman pada akhir 2025, dengan lonjakan signifikan di November–Desember.

Pilihan ini sekaligus menunjukkan arah pembangunan ekonomi yang lebih berkelanjutan, dengan tetap mengandalkan pariwisata budaya yang telah terbukti mendatangkan jutaan wisatawan setiap tahun.

Topik:
Share:
Facebook
X
LinkedIn
Threads
WhatsApp
Related Post