KEPENGURUSAN baru di tubuh Pengurus Pusat IA-ITB periode 2025–2029 telah resmi ditetapkan.
Menariknya, mayoritas kepengurusan berisikan deretan tokoh nasional alumni ITB yang resmi bergabung dalam jajaran Dewan Penasihat PP IA-ITB periode 2025–2029.
Penetapan para tokoh nasional tersebut dituangkan dalam rilis resmi Surat Keputusan Ketua Umum IA-ITB No. 007/SK-IA/PP.IAITB/X/2025 tanggal 17 Oktober 2025, yang memuat susunan Dewan Penasihat dan Dewan Pengurus IA-ITB.
Para tokoh tersebut membawa latar belakang beragam dari dunia akademik, pemerintahan, hingga korporasi.
Mereka dipercaya menjadi mitra strategis dalam merumuskan arah kebijakan dan memperkuat peran IA-ITB sebagai jembatan antara alumni, kampus, industri, dan masyarakat.
Dengan pengalaman dan jejaring luas di tingkat nasional, para tokoh ini diharapkan dapat memperkaya langkah organisasi dalam mewujudkan visi “Ganesha Circle, Ganesha Boost, dan Ganesha Care” yang digagas oleh Ketua Umum PP IA-ITB 2025-2029 terpilih, Agustin Peranginangin. Angin pun akan dibantu oleh Rosa Permata Sari sebagai sekretaris jenderal dan Rilly C. Hutabarat sebagai bendahara umum.
Selama empat tahun ke depan, Agustin “Angin” Peranginangin bertekad menjadikan IA-ITB sebagai rumah kolaboratif bagi seluruh alumni. Kehadiran para tokoh nasional di Dewan Penasihat akan menjadi penentu arah strategis organisasi, membawa pandangan lintas sektor dari pemerintahan, industri, akademisi, hingga sosial.
“IA-ITB harus menjadi simpul strategis yang menghubungkan alumni, kampus, industri, dan masyarakat. Kita memiliki potensi luar biasa yang dapat memberikan kontribusi nyata bagi pembangunan nasional,” kata Angin setelah resmi terpilih menjadi Ketum IA-ITB yang baru pada 20 Juli lalu.
Sinergi antara visi Agustin dan pengalaman para dewan penasihat ini diharapkan mampu menjadikan IA-ITB organisasi yang progresif, relevan, dan sekaligus memperluas dampak positif alumni ITB bagi bangsa.
Profil para tokoh nasional tersebut antara lain adalah:
1. Prof. Brian Yuliarto (FT’94) – Mendiktisaintek

Peran Prof. Brian Yuliarto sebagai Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Mendiktisaintek) memiliki relevansi strategis bagi komunitas alumni ITB. Dengan posisinya yang berfokus pada kebijakan riset, inovasi, dan pengembangan talenta teknologi, ia dapat membuka ruang kolaborasi antara alumni, kampus, dan dunia industri.
Melalui kebijakan penguatan riset terapan dan hilirisasi inovasi, alumni ITB yang bergerak di bidang teknologi, energi, dan kewirausahaan bisa berperan langsung dalam ekosistem inovasi nasional.
Selain itu, kapasitasnya dalam merancang sinergi antara universitas dan sektor industri dapat membantu IA-ITB memperluas jaringan kemitraan riset serta program inovasi sosial berbasis sains dan teknologi.
2. Budi Gunadi Sadikin (FI’83) – Menteri Kesehatan

Sebagai Menteri Kesehatan Republik Indonesia, Budi Gunadi Sadikin membawa perspektif multidisiplin yang berharga bagi komunitas alumni ITB. Latar belakangnya sebagai insinyur fisika nuklir dari ITB yang berkarier panjang di dunia perbankan dan kini memimpin sektor kesehatan nasional menjadikannya contoh nyata bagaimana alumni ITB dapat beradaptasi lintas bidang strategis.
Perannya sebagai Menkes membuka peluang besar bagi alumni ITB, khususnya yang bergerak di bidang teknologi kesehatan, data science, bioteknologi, hingga manajemen sistem publik. Melalui transformasi digital sektor kesehatan, seperti integrasi data layanan melalui platform SatuSehat Budi mendorong kolaborasi lintas disiplin antara teknolog, akademisi, dan praktisi. Ini menjadi lahan potensial bagi alumni ITB untuk berkontribusi dalam inovasi layanan publik berbasis teknologi dan efisiensi sistem kesehatan nasional.
Lebih jauh, pengalamannya memimpin reformasi kebijakan kesehatan nasional dapat menginspirasi IA-ITB untuk memperkuat kiprah sosial alumni di bidang pelayanan publik, terutama dalam menjembatani solusi teknologi dengan kebutuhan masyarakat luas.
3. Prof. Yassierli Menaker (TI’93) – Menaker

Sebagai Menteri Ketenagakerjaan Republik Indonesia, Prof. Yassierli membawa perspektif ilmiah dan praktis yang kuat dalam pengelolaan sumber daya manusia dan produktivitas kerja. Dengan latar belakang akademis di bidang ergonomi dan rekayasa industri, ia memahami hubungan antara manusia, teknologi, dan sistem kerja secara menyeluruh. Hal ini menjadikannya figur penting dalam mendorong kebijakan ketenagakerjaan yang adaptif terhadap perubahan dunia kerja dan revolusi industri 4.0.
Bagi komunitas alumni ITB, peran Prof. Yassierli sangat strategis dalam membuka peluang kolaborasi di bidang peningkatan kompetensi tenaga kerja, pengembangan karier, hingga inovasi pelatihan berbasis teknologi. Kehadirannya di Dewan Penasihat IA-ITB dapat membantu memperkuat kontribusi alumni dalam membentuk tenaga kerja unggul nasional—baik melalui riset, kebijakan, maupun program pemberdayaan SDM yang berorientasi pada keberlanjutan dan daya saing global.
4. Dodi Hanggodo (TM’84) – Menteri Pekerjaan Umum dan PUPR

Sebagai Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR), Dodi Hanggodo memiliki peran penting dalam memperkuat infrastruktur nasional yang menjadi fondasi pertumbuhan ekonomi Indonesia. Dengan latar belakang teknik yang kuat serta pengalaman panjang dalam bidang konstruksi dan pengelolaan proyek besar, ia membawa pendekatan profesional dan berbasis data dalam pengambilan kebijakan pembangunan infrastruktur.
Bagi alumni ITB, kehadiran Dodi di Dewan Penasihat membuka peluang sinergi di sektor strategis seperti pembangunan berkelanjutan, teknologi konstruksi, dan manajemen sumber daya air. Kolaborasi ini dapat mendorong peran IA-ITB dalam memperkuat kontribusi alumni terhadap pembangunan infrastruktur yang inklusif, efisien, dan ramah lingkungan—serta memperkuat posisi ITB sebagai pusat keunggulan di bidang keteknikan nasional.
5. Hatta Rajasa (TM‘73) , Mantan Menteri Koordinator Perekonomian

Sebagai tokoh nasional yang berpengalaman di pemerintahan dan dunia usaha, Hatta Rajasa memiliki rekam jejak panjang dalam membentuk arah kebijakan ekonomi dan pembangunan nasional. Pernah menjabat sebagai Menteri Koordinator Perekonomian, Menteri Sekretaris Negara, serta Menteri Perhubungan, Hatta dikenal sebagai sosok strategis yang mampu menjembatani kepentingan pemerintah, sektor swasta, dan masyarakat dalam mendorong pertumbuhan ekonomi inklusif.
Bagi alumni ITB, kehadiran Hatta Rajasa di Dewan Penasihat menjadi aset berharga dalam memperkuat jejaring ekonomi dan kewirausahaan alumni. Wawasannya dalam bidang kebijakan publik dan ekonomi makro dapat membantu IA-ITB merumuskan inisiatif kolaboratif antara akademisi, pengusaha, dan pemerintah—serta mendorong peran alumni ITB sebagai penggerak inovasi dan pembangunan ekonomi nasional.
6. Pramono Anung (TA’82) – Gubernur DKI Jakarta

Sebagai Gubernur DKI Jakarta, Pramono Anung membawa pengalaman panjang dalam pemerintahan dan politik yang dapat menjadi nilai tambah besar bagi arah strategis IA-ITB. Dikenal sebagai birokrat yang komunikatif dan kolaboratif, Pramono memiliki kemampuan dalam mengelola tata kelola pemerintahan, membangun sinergi lintas lembaga, serta menavigasi kebijakan publik di wilayah metropolitan terbesar di Indonesia.
Peran Pramono di Dewan Penasihat IA-ITB dapat memperkuat posisi organisasi alumni dalam menjalin hubungan strategis dengan pemerintah daerah dan pusat. Melalui jejaring dan pengalamannya, IA-ITB berpotensi lebih aktif berkontribusi dalam isu-isu urban seperti mobilitas, lingkungan, dan digitalisasi kota—sekaligus menghadirkan peran nyata alumni ITB dalam pembangunan Jakarta sebagai pusat ekonomi dan inovasi nasional.
7. I Wayan Koster (MA’81) – Gubernur Bali

Sebagai Gubernur Bali, I Wayan Koster dikenal sebagai pemimpin yang memiliki visi kuat terhadap pembangunan berkelanjutan berbasis kearifan lokal dan ekonomi hijau. Di bawah kepemimpinannya, Bali menonjol dalam pengembangan energi bersih, pengelolaan lingkungan, serta pelestarian budaya yang selaras dengan kemajuan teknologi dan pariwisata. Kombinasi antara nilai tradisional dan inovasi modern menjadi ciri khas gaya kepemimpinannya.
Kehadiran I Wayan Koster di Dewan Penasihat IA-ITB dapat membuka peluang sinergi antara alumni ITB dengan berbagai inisiatif hijau dan inovatif di berbagai provinsi daerah, khususnya provinsi Bali. Dengan pemahamannya terhadap kebijakan pembangunan berwawasan lingkungan, Koster dapat mendorong peran alumni ITB dalam proyek-proyek energi terbarukan, tata kota berkelanjutan, hingga pengembangan pariwisata cerdas yang menjaga keseimbangan antara alam, budaya, dan kemajuan teknologi.
8. Claus Wamafma (TI’92), Direktur & Executive Vice President Sustainable Development PT Freeport Indonesia

Sebagai Direktur & Executive Vice President Sustainable Development PT Freeport Indonesia, Claus Wamafma memiliki peran penting dalam memastikan praktik pertambangan yang berkelanjutan dan bertanggung jawab terhadap lingkungan serta masyarakat sekitar. Ia dikenal sebagai profesional yang berfokus pada pembangunan sosial di Papua, pengembangan SDM lokal, dan penerapan prinsip ESG (Environmental, Social, and Governance) dalam operasi industri skala besar.
Bagi IA-ITB, kehadiran Claus membawa perspektif strategis tentang bagaimana teknologi, keberlanjutan, dan tanggung jawab sosial dapat berjalan beriringan. Pengalamannya di sektor industri berat memberi peluang bagi alumni ITB untuk berperan dalam transformasi industri nasional menuju praktik yang lebih ramah lingkungan, sekaligus memperkuat kontribusi alumni dalam pembangunan daerah, khususnya di Papua dan pengembangan kapasitas masyarakat di wilayah pertambangan Indonesia.
9. Arief Yahya (EL’80) – Menteri Pariwisata

Sebagai Menteri Pariwisata Republik Indonesia periode 2014–2019, Arief Yahya dikenal sebagai sosok yang berhasil membawa pariwisata Indonesia ke tingkat global. Ia memperkenalkan pendekatan strategic management dan digital transformation dalam pengelolaan destinasi wisata, termasuk peluncuran program “Wonderful Indonesia” yang berhasil meningkatkan kunjungan wisatawan mancanegara secara signifikan. Latar belakangnya sebagai insinyur dan mantan CEO Telkom Indonesia membuat Arief unggul dalam mengintegrasikan teknologi digital dengan strategi promosi pariwisata.
Peran Arief Yahya di Dewan Penasihat IA-ITB dapat memperkaya arah strategis organisasi alumni dalam pengembangan sektor ekonomi kreatif dan inovasi berbasis teknologi. Pengalamannya menggabungkan visi bisnis, teknologi, dan kebijakan publik menjadi inspirasi bagi alumni ITB untuk berkontribusi pada pengembangan destinasi pintar, digitalisasi UMKM pariwisata, serta penguatan branding alumni ITB di kancah nasional dan internasional.
10. Nurhayati Subakat (FA’71) – Pendiri Paragon

Sebagai Pendiri dan CEO Paragon Technology and Innovation, Nurhayati Subakat dikenal sebagai tokoh perempuan inspiratif di dunia industri kecantikan Indonesia. Di bawah kepemimpinannya, Paragon melahirkan merek-merek ternama seperti Wardah, Make Over, dan Emina yang tak hanya sukses secara komersial, tetapi juga mengusung nilai keberlanjutan, inovasi, serta pemberdayaan perempuan. Nurhayati berhasil membangun perusahaan dengan budaya kerja yang humanis dan berorientasi pada nilai-nilai sosial.
Kehadiran Nurhayati Subakat di Dewan Penasihat IA-ITB memberikan perspektif berharga tentang kepemimpinan berbasis nilai dan inovasi yang berkelanjutan. Ia dapat menjadi inspirasi bagi alumni ITB untuk mengembangkan bisnis beretika, berorientasi sosial, dan tetap berdaya saing global. Pengalamannya dalam membangun ekosistem industri berbasis inovasi lokal juga dapat memperkuat semangat kewirausahaan sosial di kalangan alumni ITB lintas generasi.
11. Muslimin Nasution (MS’6x) – Menteri Kehutanan dan Perkebunan pada Kabinet Reformasi Pembangunan dan Presidium ICMI

Sebagai Menteri Kehutanan dan Perkebunan pada Kabinet Reformasi Pembangunan (1998–1999) sekaligus Presidium Ikatan Cendekiawan Muslim se-Indonesia (ICMI), Muslimin Nasution memiliki pengalaman luas dalam bidang tata kelola sumber daya alam dan pembangunan berkelanjutan. Ia dikenal sebagai sosok yang mendorong reformasi kebijakan kehutanan pasca-krisis 1998, dengan fokus pada pemberdayaan masyarakat sekitar hutan dan perbaikan tata kelola lingkungan hidup di Indonesia.
Kehadiran Muslimin Nasution di Dewan Penasihat IA-ITB menjadi nilai strategis bagi organisasi alumni yang ingin berkontribusi dalam isu-isu keberlanjutan, kehutanan, dan ekonomi hijau. Dengan pandangannya yang holistik terhadap lingkungan, sosial, dan kebijakan publik, ia dapat membantu mengarahkan alumni ITB untuk mengambil peran lebih besar dalam penelitian, inovasi teknologi hijau, serta advokasi kebijakan pembangunan berkelanjutan di tingkat nasional.
12. Jehansyah Siregar (AR’89) – Dosen SAPPK ITB

Sebagai Dosen Sekolah Arsitektur, Perencanaan, dan Pengembangan Kebijakan (SAPPK) ITB serta pakar perumahan publik, Jehansyah Siregar dikenal memiliki kepedulian besar terhadap isu hunian terjangkau dan tata kota berkeadilan sosial. Ia pernah menjabat sebagai Penasihat Menteri Perumahan Rakyat (2011–2012) dan Tenaga Ahli Menteri PUPR (2014–2017), di mana ia turut berkontribusi dalam penyusunan kebijakan perumahan rakyat dan pengembangan kawasan permukiman berkelanjutan di Indonesia.
Peran Jehansyah di Dewan Penasihat IA-ITB menjadi penting karena keahliannya menjembatani bidang akademik, kebijakan publik, dan implementasi teknis di lapangan. Dengan pengalamannya, IA-ITB dapat memperkuat kontribusi alumni dalam isu-isu strategis seperti urbanisasi berkelanjutan, pengembangan perumahan rakyat, dan transformasi kebijakan tata ruang—bidang yang sangat relevan bagi pembangunan Indonesia di masa depan.
13. Purbaya Yudhi Sadewa (EL’83) – Menteri Keuangan

Sebagai Menteri Keuangan Republik Indonesia, Purbaya Yudhi Sadewa dikenal sebagai ekonom yang memiliki pemahaman mendalam tentang stabilitas makroekonomi dan kebijakan fiskal nasional. Sebelum menjabat sebagai menteri, ia pernah menjadi Kepala Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) dan Deputi Menko Perekonomian Bidang Koordinasi Makroekonomi dan Keuangan, posisi yang memperkuat reputasinya dalam menjaga ketahanan ekonomi Indonesia di tengah dinamika global.
Kehadiran Purbaya di Dewan Penasihat IA-ITB memberikan nilai strategis dalam memperkuat tata kelola keuangan dan kebijakan ekonomi organisasi alumni. Wawasan dan jejaringnya dapat membantu IA-ITB mengembangkan model pendanaan berkelanjutan, memperluas program ekonomi alumni, serta merancang inisiatif yang mendorong peran alumni ITB dalam menciptakan inovasi di sektor keuangan, investasi, dan ekonomi digital nasional.
Tiga belas tokoh nasional di Dewan Penasihat PP IA-ITB 2025–2029 mencerminkan kekuatan besar alumni ITB yang berkiprah di berbagai bidang penting bangsa—dari pemerintahan, industri, hingga akademisi. Mereka membawa pengalaman luas dalam kebijakan publik, inovasi, dan pembangunan berkelanjutan yang dapat menjadi inspirasi sekaligus panduan strategis bagi IA-ITB untuk memperkuat peran alumni di tingkat nasional.
Sinergi antara visi Ketua Umum Agustin “Angin” Peranginangin—Ganesha Circle, Ganesha Boost, dan Ganesha Care—dengan pengalaman para penasihat ini membuka peluang bagi IA-ITB untuk tumbuh sebagai organisasi yang kolaboratif dan berdampak. Perpaduan pengetahuan, kepemimpinan, dan jejaring lintas sektor membuat IA-ITB siap berperan aktif dalam mendorong kemajuan Indonesia yang inovatif dan berkelanjutan.





