Alumni ITB Tapanuli Gagas “Tabagsel Pintar”, Siapkan Siswa Masuk SMA Garuda

Fachrizal Hutabarat

DUA alumni ITB asal Tapanuli Bagian Selatan (Tabagsel) menggagas program “Tabagsel Pintar”, sebuah inisiatif pembinaan akademik yang mempersiapkan pelajar terbaik Tabagsel agar mampu bersaing masuk SMA Unggulan Garuda, sekolah unggulan nasional yang tengah menjadi fokus pembangunan pemerintah.

Program ini diinisiasi oleh Ongku P. Hasibuan (EL’77) dan Kali Raja Harahap. Mereka mengambil langkah konkret untuk membuka kesempatan lebih luas bagi siswa-siswi daerah. 

Program ini juga dirancang dari kesadaran bahwa kualitas pendidikan harus mampu menciptakan generasi unggul yang dapat berkompetisi di tingkat nasional hingga internasional.

“Pemerintah ingin menyiapkan sekolah-sekolah yang bisa menghasilkan putra-putri terbaik bangsa untuk bersaing di level nasional dan internasional,” Seperti disampaikan Ongku, mengutip dari matatelinga.com pada 24 November 2025.

Ongku menegaskan bahwa kesempatan itu harus dimiliki seluruh anak bangsa,termasuk pelajar dari Tabagsel.

Menurutnya, inisiasi program ini selaras dengan target pemerintah membangun 40 SMA Unggulan Garuda di berbagai daerah, 20 sekolah baru dan 20 yang bertransformasi dari sekolah unggulan sebelumnya. 

Hingga 2025, sudah tercatat 12 sekolah dalam kategori tersebut, seperti SMA Unggul DEL, SMA Taruna Nusantara, dan SMA Pradipta Nusantara. 

Inilah yang mendorong para alumni ITB Tabagsel untuk bergerak lebih awal: menyiapkan calon-calon siswa agar siap bersaing sejak sekarang.

Selain itu, Kali Raja Harahap mengungkapkan urgensi pendirian program “Tabagsel Pintar”, karena kualitas pendidikan di Tapanuli Bagian Selatan (Tabagsel) masih tertinggal dari Tapanuli Utara (Taput). 

“Bayangkan saja SMA DEL tahun 2025, Alumninya 39 orang masuk ITB sedangkan Tabagsel hanya 3 orang. Itu artinya Tapanuli Bagian Utara lebih unggul jauh dari Tabagsel” terangnya mengutip dari media lokal telusursumut.com.

Gambaran ini menunjukkan bahwa mayoritas anak di wilayah Tabagsel memulai perjalanan akademik dengan pondasi yang lebih lemah, sehingga peluang untuk bersaing masuk sekolah unggulan nasional juga semakin terjal. 

Karena itu, kehadiran “Tabagsel Pintar” bukan hanya program persiapan akademik, tetapi juga intervensi strategis untuk memperkecil kesenjangan kualitas pendidikan antarwilayah demi membuka gerbang masa depan yang setara bagi generasi muda Tabagsel.

Selain itu, menurut Raja, tahapan pembinaan Tabagsel Pintar dimulai dari tingkat SMP dan pada fase pertama dipusatkan di Kota Padangsidimpuan melalui kolaborasi dengan Dinas Pendidikan. 

Seleksi dilakukan terhadap siswa dari 21 SMP di Tabagsel, dan yang menarik, pembinaan tidak hanya difokuskan kepada murid, tetapi juga pada kualitas tenaga pendidik.

“Kalau mau menghasilkan siswa yang pintar, gurunya harus pintar. Tidak ada kompromi soal kualitas. Kami pastikan guru yang terlibat adalah yang terbaik dan kami berikan penghargaan yang layak.” ujar Raja.

Model pembelajaran dalam “Tabagsel Pintar” dirancang berbasis progres. Para siswa menjalani tes awal untuk memetakan kemampuan, diikuti sesi pembelajaran intensif, lalu post-test untuk mengukur perkembangan. 

Hasilnya menunjukkan perubahan signifikan, di mana kemampuan siswa meningkat 60–70 persen di setiap bab.

Meski kemajuan terlihat jelas, kedua alumni menyadari bahwa perjalanan peningkatan kualitas pendidikan di Tabagsel bukanlah proses cepat. 

“Pembangunan pendidikan generasi Tabagsel ini bukan perkara mudah. Ini jalan yang sulit. Akan mudah kalau kita lakukan secara totalitas alias Mestakung (semesta mendukung). Mestakung itu, ketika semua pemangku kepentingan berkontribusi maksimal dan yang paling penting semangat juang siswa itu sendiri,” kata Raja.

Karena itu, “Tabagsel Pintar” bukan hanya program pelatihan jangka pendek, melainkan pondasi jangka panjang. 

Ia mengungkapkan bahwa program ini murni gagasan dari Alumni ITB yang berasal dari Tabagsel sebagai bentuk kepedulian untuk meningkatkan SDM anak-anak yang nantinya ikut seleksi masuk SMA unggulan Garuda. 

Program ini lahir dari alumni ITB, tetapi ditujukan sepenuhnya untuk masa depan generasi muda Tabagsel. 

Hal ini merupakan bagian dari program Asta Cita Presiden Prabowo Subianto untuk membangun manusia Indonesia yang sehat, cerdas, produktif, berdaya saing, dan berakhlak mulia.

Oleh karena itu, Raja juga menekankan kepada siswa/siswi SMP sederajat yang sudah lulus seleksi supaya jangan menyia-nyiakan kesempatan ini. 

Karena menurutnya, siswa /siswi SMA unggulan Garuda ini nantinya akan ditanggung oleh Pemerintah pusat (APBN) sampai ke jenjang perguruan negeri baik untuk wilayah Indonesia maupun perguruan negeri di luar negeri.

“Kami berharap baik kepada orang tua dan siswa/siswi yang sudah lulus seleksi untuk tidak menyianyiakan kesempatan ini, karena kesempatan tidak datang untuk kedua kalinya,” papar Kali Raja Harahap dihadapan orang tua, siswa/siswi.

Langkah awal ini diharapkan menjadi pemantik keterlibatan lebih besar dari berbagai pihak: pemerintah daerah, sekolah, masyarakat, diaspora Tabagsel, dan dunia pendidikan nasional. 

Sebuah bukti nyata bahwa kontribusi alumni tidak hanya berhenti pada nostalgia almamater, melainkan menyentuh hal paling mendasar: membuka jalan agar anak-anak daerah memiliki akses ke pendidikan terbaik, serta peluang setara untuk membangun masa depan yang gemilang.

Topik:
Share:
Facebook
X
LinkedIn
Threads
WhatsApp
Related Post