Pakar Ilmu Kebumian ITB Ungkap 3 Faktor Penyebab Banjir Bandang Sumatera

Fachrizal Hutabarat

BENCANA banjir bandang dan longsor yang melanda Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat akhir November lalu menyisakan kerusakan besar dan duka yang mendalam bagi ribuan warga setempat. 

Di balik peristiwa itu, para ahli dari Fakultas Ilmu Teknologi dan Kebumian (FITB ITB) memberikan penjelasan ilmiah yang runtut dan komprehensif mengenai penyebab bencana.

Hal ini dimaksudkan untuk mengajak masyarakat memahami bahwa kejadian ini bukan sekadar persoalan curah hujan tinggi, tetapi hasil dari interaksi kompleks antara atmosfer, kondisi geospasial, dan perubahan lanskap wilayah.

Menurut Dr. Muhammad Rais Abdillah, Ketua Program Studi Meteorologi ITB, faktor pertama datang dari dinamika atmosfer. Saat ini wilayah utara Sumatera memang sedang berada pada puncak musim hujan. Ia menegaskan tingginya intensitas presipitasi menjadi pemicu awal. 

“Beberapa wilayah mencatat curah hujan lebih dari 150 milimeter, bahkan terdapat stasiun BMKG yang mencatat lebih dari 300 milimeter, yang dikategorikan sebagai curah hujan ekstrem,” kata Rais mengutip dari situs resmi www.itb.ac.id pada 2 Desember 2025.

Kondisi ini semakin dipicu oleh adanya sistem tekanan rendah dan sirkulasi vortex di barat Sumatera yang berkembang menjadi Siklon Tropis Senyar, serta adanya fenomena cold-surge yang membawa suplai uap air dalam jumlah besar. 

Kombinasi faktor-faktor tersebut memperkuat pembentukan awan hujan dan memperluas area presipitasi.

Selain itu, faktor kedua adalah karakteristik geospasial wilayah. Menurut Dr. Heri Andreas, dosen Teknik Geodesi dan Geomatika ITB, respon suatu daerah terhadap hujan tidak hanya ditentukan oleh atmosfer, tetapi juga oleh tanah dan bentuk permukaan. 

“Saat presipitasi turun, sebagian air meresap ke dalam tanah, sementara sisanya mengalir sebagai runoff. Proporsinya sangat bergantung pada tutupan lahan dan karakteristik tanah,” katanya. 

Dr. Heri berpendapat, struktur tanah yang mudah jenuh serta topografi yang curam mempercepat aliran permukaan, membuat wilayah tertentu lebih rentan terhadap banjir bandang dan longsor.

Sementara itu, faktor ketiga adalah perubahan tutupan lahan. Hilangnya kawasan penahan air alami, seperti hutan, vegetasi lebat, dan daerah resapan mengurangi kemampuan tanah untuk menyerap air.

“Ketika kawasan penahan air alami hilang, wilayah tersebut kehilangan kemampuan menahan limpasan. Akibatnya, hujan yang turun langsung mengalir cepat ke sungai dan memicu banjir,” tambah Dr. Heri. 

Alih fungsi lahan menjadi permukiman, pertanian intensif, atau area terbuka, membuat volume air yang mengalir tanpa hambatan meningkat signifikan.

Kolaborasi pandangan dari para ahli ITB ini menunjukkan bahwa bencana hidrometeorologi tidak bisa dilihat dari satu sisi saja. 

Banjir Sumatera adalah perpaduan hasil dari pertemuan antara cuaca ekstrem, kondisi geomorfologi, dan perubahan lanskap akibat aktivitas manusia. 

Pemahaman komprehensif seperti ini penting sebagai pijakan dalam merumuskan mitigasi jangka panjang, mulai dari penataan ruang berbasis risiko, penguatan kawasan resapan air, hingga edukasi kebencanaan yang lebih masif.

Arah Mitigasi: Dari Infrastruktur Fisik hingga Literasi Kebencanaan


Oleh karena itu, Mitigasi banjir tidak bisa lagi bergantung pada pembangunan fisik seperti tanggul atau normalisasi sungai saja. 

Upaya ini perlu dilengkapi pendekatan non-struktural yang lebih menyeluruh agar risiko bencana dapat ditekan secara efektif.

Dr. Heri menegaskan bahwa tata ruang harus disusun berdasarkan tingkat risiko, disertai perlindungan kawasan resapan seperti hutan, rawa, dan sempadan sungai. 

Ia juga menyoroti perlunya data geospasial dan pemodelan banjir yang lebih akurat untuk membantu pengambilan keputusan.

Sementara itu, Dr. Muhammad Rais Abdillah menekankan pentingnya sistem peringatan dini yang mudah dipahami masyarakat. 

Informasi cuaca dan potensi bencana harus disampaikan dalam bentuk yang praktis dan relevan, sekaligus diperkuat dengan literasi kebencanaan dan edukasi publik. 

Hingga per 1 Desember 2025, data terbaru dari BNPB menunjukkan tingkat keparahan bencana yang jauh lebih besar dari perkiraan awal. Total 442 jiwa dilaporkan meninggal dunia, sementara 402 orang masih dalam pencarian di Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat. 

Sumatera Utara menjadi wilayah dengan korban tertinggi, mencatat 217 jiwa meninggal. Pada saat yang sama, lebih dari 33.000 jiwa berhasil dievakuasi dalam operasi penyelamatan berskala besar. 

Krisis ini juga menyebabkan kerusakan infrastruktur luas, terputusnya akses jalan dan komunikasi, serta ribuan warga kehilangan tempat tinggal. Hal ini menggambarkan betapa mendesaknya kebutuhan bantuan kemanusiaan yang berkelanjutan.

Dengan kolaborasi pemerintah, lembaga ilmiah, dan kampus seperti ITB, mitigasi banjir ke depan diharapkan lebih adaptif, berbasis data, dan mampu membangun masyarakat yang lebih siap menghadapi bencana.

Hingga kini, penghimpunan dana masih terus dibuka, mengingat kebutuhan lapangan yang luas dan kondisi masyarakat yang masih memerlukan dukungan jangka pendek maupun pemulihan awal. 

Rekening Bantuan Banjir dan Longsor Sumatera.

ITB, Ikatan Alumni, dan Rumah Amal Salman pun mengajak masyarakat berpartisipasi melalui infak kemanusiaan. Donasi akan digunakan untuk pemenuhan kebutuhan darurat di tiga wilayah terdampak.


Masyarakat dapat menyalurkan donasi melalui rekening berikut ini:

Aceh: BSI: 6333888335

Sumatera Utara: BSI: 6336334246

Sumatera Barat: BSI: 6336334337

a.n. Yayasan Rumah Amal Salman

Informasi & Konfirmasi: wa.me/628112228333

ITB menyampaikan doa dan solidaritas bagi seluruh penyintas agar diberikan kekuatan, perlindungan, serta pemulihan yang segera.

Topik:
Share:
Facebook
X
LinkedIn
Threads
WhatsApp
Related Post