Rektor Tatacipta Ajak Alumni Berkontribusi Wujudkan ITB sebagai Kampus Unggul Kelas Dunia

Fachrizal Hutabarat

KELUARGA besar Institut Teknologi Bandung (ITB) kembali menegaskan pentingnya peran alumni dalam mendorong kemajuan almamater di tengah tantangan global yang kian kompleks. 

Dalam momentum Rapat Kerja Nasional (Rakernas) Ikatan Alumni ITB (IA-ITB) 2025, alumni diajak untuk tidak sekadar menjadi bagian dari sejarah kampus, tetapi turut berkontribusi aktif dalam mewujudkan ITB sebagai perguruan tinggi unggul berkelas dunia.

Rektor ITB Tatacipta Dirgantara menekankan bahwa keunggulan kampus tidak hanya diukur dari reputasi akademik semata, tetapi juga dari sejauh mana kontribusi nyata yang dihasilkan bagi masyarakat dan bangsa. 

Menurutnya, sinergi antara kampus dan alumni menjadi kekuatan strategis untuk menjaga relevansi ITB dalam menjawab kebutuhan zaman. Alumni dipandang sebagai mitra penting yang mampu menjembatani dunia akademik dengan dunia industri, kebijakan publik, dan pengabdian sosial.

“Banyak sekali alumni dan tokoh-tokoh yang mau kembali untuk berkontribusi untuk kemajuan bersama alumni ITB bersama ITB. Unggul artinya kita memiliki reputasi kelas dunia dan berdampak artinya apa yang dilakukan oleh ITB, oleh alumninya itu membawa kemajuan bagi Indonesia,” kata Rektor ITB,Tatacipta Dirgantara di acara Rapat Kerja Nasional (Rakernas) PP IA ITB, di Auditorium Kementerian Pendidikan Tinggi (Kemendiktisaintek), Sabtu, 13 Desember 2025.

Ajakan tersebut sejalan dengan upaya memperkuat kolaborasi antara ITB, IA-ITB, dan pemerintah. Kehadiran alumni dalam berbagai sektor dinilai dapat menyelaraskan agenda pengembangan almamater dengan kebutuhan nasional, termasuk dalam penguatan sumber daya manusia dan inovasi berkelanjutan. 

Dalam konteks ini, organisasi alumni tidak hanya berfungsi sebagai wadah silaturahmi, tetapi juga sebagai ruang kolektif untuk berkontribusi secara strategis.

Dalam forum yang sama, Menteri Ketenagakerjaan Republik Indonesia Yassierli menyoroti tantangan besar ketenagakerjaan nasional. 

Ia mengungkapkan bahwa sekitar 85 persen tenaga kerja Indonesia masih berlatar pendidikan hingga SMA, sehingga membutuhkan dukungan nyata dari kalangan praktisi dan pakar untuk meningkatkan kualitas dan daya saing SDM. 

Alumni ITB, dengan latar belakang keilmuan dan pengalaman profesional yang beragam, dinilai memiliki peran penting dalam menjawab tantangan tersebut.

“Sebanyak 85% tenaga kerja kita lulusan maksimum SMA. Saya membutuhkan memang para praktisi, para pakar yang siap untuk kemudian mengembangkan modul-modul pelatihan yang applicable. Sehingga disitulah kesempatan para alumni bisa bersinergi, bisa membangun kolaborasi.” kata Yassierli di acara Rakernas IA-ITB 2025 lalu.

Yassierli mendorong IA-ITB untuk merumuskan program kerja yang memiliki giving impact, yakni berdampak langsung bagi masyarakat luas. 

Ia mengidentifikasi sejumlah ruang kolaborasi yang dapat dikembangkan, mulai dari penyusunan modul pelatihan yang aplikatif, peningkatan visibilitas dunia kerja, pemanfaatan teknologi tepat guna, hingga optimalisasi program magang, termasuk ke luar negeri. Upaya ini diharapkan mampu menjembatani kesenjangan kompetensi tenaga kerja nasional.

Sementara itu, Dari perspektif kealumnian, Ketua Dewan Pengawas IA-ITB Safitri Siswono mengingatkan kembali makna simbol Ganesha sebagai representasi kekuatan, kebersamaan, dan semangat pantang mundur. 

Nilai tersebut dipandang relevan untuk terus dihidupkan dalam gerak kolektif alumni, khususnya dalam menghadapi tantangan pembangunan bangsa yang semakin dinamis.

“Ganesha itu kuat, solid, pantang mundur. ITB itu adalah Gajah, care sama saudaranya baik dalam keadaan susah maupun senang.” kata Safitri Siswono, saat Rakernas.

Sementara itu, Ketua PP IA-ITB Agustin Peranginangin menegaskan bahwa IA-ITB merupakan wadah formal sekaligus duta almamater yang membawa nama baik ITB di tingkat nasional dan internasional. 

Ia menyampaikan bahwa alumni memiliki peran strategis dalam mendukung target ITB menembus jajaran kampus unggulan dunia, sekaligus memastikan kontribusi kampus tetap berdampak bagi Indonesia.

“Pak Prabowo melihat ITB bisa menjadi jagoan internasional. Teman-teman pengurus harus bergandengan tangan mewujudkan cita-cita ini,” kata Agustin Peranginangin. 

Melalui Rakernas IA-ITB 2025, penguatan struktur organisasi dan semangat kolaborasi lintas generasi kembali ditegaskan. 

Dengan mengedepankan nilai inovasi, solidaritas, dan kebermanfaatan, keluarga besar ITB diharapkan mampu melangkah bersama menjadikan almamater tidak hanya unggul secara global, tetapi juga relevan dan bermakna bagi kemajuan bangsa.

Topik:
Share:
Facebook
X
LinkedIn
Threads
WhatsApp
Related Post