IKATAN Alumni Institut Teknologi Bandung (IA-ITB) Pengda Aceh mengambil langkah nyata dalam fase pemulihan pasca bencana hidrometeorologi yang melanda berbagai wilayah di Aceh.
Setelah melewati masa tanggap darurat, IA-ITB Aceh mengarahkan fokus pada upaya pemulihan awal yang berkelanjutan melalui penguatan kemandirian desa, khususnya di sektor energi dan layanan dasar masyarakat.
Bencana yang dipicu Siklon Tropis Senyar pada 26 November 2025 memberi dampak luas: 18 kabupaten/kota, 225 kecamatan, dan 3.658 gampong terdampak, dengan lebih dari 1,9 juta jiwa korban dampak dan 848.870 jiwa mengungsi.
Menjawab tantangan tersebut, IA-ITB Aceh menginisiasi konsep Desa Tanggap Bencana dan Berdikari Energi dengan memanfaatkan Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) sebagai sumber energi mandiri.
“Kami siaga sejak hari pertama melalui koordinasi rapid response dan dukungan teknologi tepat guna: PLTS, Starlink, mesin penyuling air,” ujar Mulkan Fadhli, Sekjen IA-ITB Aceh saat menjelaskan strategi pemulihan berbasis energi bersih dan teknologi untuk desa-desa terdampak, mengutip dari rm.id pada 17 Desember 2025.
Melalui program ini, IA-ITB Aceh membangun Solar Water Purification Station yang memanfaatkan tenaga surya untuk mengolah air dari berbagai sumber menjadi air bersih layak pakai.
Fasilitas ini tidak hanya menjawab kebutuhan air minum dan sanitasi, tetapi juga berfungsi sebagai pusat penerangan serta titik pengisian daya perangkat komunikasi di lokasi pengungsian dan fasilitas umum desa.
Teknologi energi surya dipilih karena dinilai adaptif terhadap kondisi pascabencana, mudah dioperasikan, serta berpotensi berkelanjutan untuk jangka panjang. Lebih dari sekadar solusi darurat, pendekatan yang diusung IA-ITB Aceh dirancang agar tetap memberi manfaat setelah masa krisis berlalu.
Menurut Mulkan, Sistem PLTS yang terpasang diarahkan untuk terus beroperasi dan dikelola oleh masyarakat desa melalui pembentukan BUMDes Energi dan kelompok kerja energi desa.
Skema ini sekaligus membuka ruang pemberdayaan warga melalui pelatihan teknisi lokal dan penguatan kapasitas pengelolaan energi.
Selain PLTS, IA-ITB melalui Badan Ganesha Peduli (BGP) juga menyediakan bantuan teknologi lain seperti Starlink untuk komunikasi darurat dan mesin penyuling air, sebagai bagian dari respons cepat sejak 27 November 2025. Pada Rakernas IA-ITB 2025 lalu, disebutkan bahwa total bantuan yang telah disalurkan mencapai Rp. 120 juta.
Pakar Klimatologi ITB Sebut Kerusakan Bencana Sumatera Akibat Kegagalan Mitigasi bukan Cuaca Ekstrem
Sejalan dengan situasi bencana tersebut, Prof. Dr. Erma Yulihastin, pakar klimatologi dan peneliti BRIN di bidang cuaca dan iklim di Indonesia, melalui akun media sosialnya menyampaikan analisis mengenai penyebab utama di balik kerusakan masif akibat bencana di Sumatera.
Ia menegaskan bahwa cuaca ekstrem hanya berkontribusi sekitar 20 persen terhadap total kerusakan. Dari sisi energi badai, menurutnya, tidak terdapat level katastropik yang cukup kuat untuk menghasilkan kehancuran sebesar itu tanpa diperparah oleh faktor pendukung lainnya.
.Lebih lanjut, Erma Yulihastin menjelaskan bahwa 80 persen dampak kehancuran justru bersumber dari kegagalan mitigasi dan sistem peringatan dini yang tidak berfungsi secara efektif.
“Saya jelaskan di TVRI bahwa dalam ilmu cuaca ekstrem, secara energi badai, tidak ada level katastropik yang dapat menimbulkan dampak demikian parah hingga terjadi keruntuhan sistem dan kerusakan permanen di Sumatra. Kontribusi cuaca ekstrem sekitar 20%,” kata Erma Yulihastin mengutip dari akun X nya @eyulihastin pada 17 Desember 2025.
Kondisi rapuh tersebut memicu keruntuhan sistemik, mulai dari jatuhnya korban jiwa hingga lumpuhnya infrastruktur, telekomunikasi, dan pasokan layanan dasar. Dampak bencana bahkan bersifat katastropik hingga 65 persen, meskipun energi badai tidak mencapai tingkat yang sama.
Menurutnya, apabila mitigasi dan kesiapsiagaan berjalan optimal, tingkat keparahan seharusnya dapat ditekan pada kisaran 10–20 persen sehingga penanganan bencana tidak menjadi kewalahan.
Pandangan ini menggeser fokus dari semata-mata faktor alam ke aspek manajemen dan kesiapsiagaan bencana. Oleh karena itu, penguatan mitigasi berbasis sains, teknologi, dan tata kelola yang berpihak pada keselamatan menjadi prasyarat utama agar risiko bencana dapat dikelola secara lebih rasional, terukur, dan berkeadilan bagi masyarakat di masa depan.





