Ada Peran Penting Alumni ITB Dibalik Indonesia Juara FIFA ASEAN Cup 2026

Fachrizal Hutabarat

TIM Nasional Indonesia mencatat sejarah dengan menjadi juara perdana FIFA ASEAN Cup 2026 setelah mengalahkan Thailand melalui drama adu penalti pada pertandingan final di Stadion Utama Gelora Bung Karno, Jakarta, Senin, 5 Oktober 2026. 

Indonesia bermain imbang 2-2 hingga babak tambahan waktu sebelum memastikan kemenangan 4-2 dalam adu penalti. Kemenangan tersebut menjadi pelepas penantian puasa gelar timnas senior selama 35 tahun.

Di balik keberhasilan tersebut, terdapat sejumlah sosok yang bekerja di luar sorotan utama pertandingan. Salah satunya adalah Dzikry Lazuardi Z.S., alumni Teknik Geodesi dan Geomatika ITB angkatan 2015, yang menjadi bagian dari lingkungan kepelatihan Tim Nasional Indonesia yang dikepalai John Herdman.

Setelah pertandingan, Dzikry membagikan momen perayaan di lapangan melalui akun Instagram pribadinya. Dalam foto tersebut, ia terlihat berada di lapangan SUGBK bersama salah satu pemain Indonesia sambil mengenakan kaus bertuliskan “Champions of ASEAN” dan memegang trofi.

“All the hard work from everyone behind the scenes has finally paid off! I’m extremely proud to have contributed and to be part of this historic achievement.” kata Dzikry mengutip dari akun Instagramnya @dzikrylzs.

Kombinasi Ilmu Teknik dengan Sepak Bola Modern

Kehadiran Dzikry di tim nasional menjadi menarik karena latar belakang pendidikannya bukan berasal dari ilmu keolahragaan. Alumni ITB yang lahir lahir di Bandung pada 4 April 1997 tersebut menempuh pendidikan di bidang Teknik Geodesi dan Geomatika, sebelum kemudian membangun karier profesional di dunia analisis sepak bola. 

Perjalanan kariernya antara lain mencakup peran sebagai analis di Sulut United, Persipura, Persis Solo, hingga menjadi Kepala Analis Persija Jakarta. Ia juga memiliki Lisensi Kepelatihan C AFC.  Dzikry pun kemudian dipilih sendiri menjadi asisten oleh pelatih baru Timnas senior Indonesia, John Herdman pada 3 Februari lalu.  

Dalam konteks Dzikry, perjalanan dari Teknik Geodesi dan Geomatika menuju sepak bola menunjukkan bahwa kompetensi alumni ITB dapat diterapkan lintas bidang. Pengetahuan dan cara berpikir yang terbentuk dari pendidikan teknik tidak berhenti pada pekerjaan yang secara konvensional berkaitan dengan bidang keteknikan, tetapi dapat berkembang menjadi kemampuan analisis yang digunakan dalam industri olahraga.

Kontribusi tersebut berlangsung di balik layar. Ketika para pemain menjadi pusat perhatian publik, staf kepelatihan dan analis bekerja mempersiapkan pertandingan, mengevaluasi lawan, membaca permainan, dan menyediakan informasi yang diperlukan dalam proses pengambilan keputusan tim. Pendekatan analisis spasial, pemetaan pergerakan pemain, hingga pengolahan data performa menjadi elemen penting dalam meningkatkan presisi dan efisiensi permainan.

Tradisi Kontribusi Alumni ITB untuk Sepak Bola Nasional

Bagi Dzikry, keberadaan di dalam bagian dari perjalanan Timnas hingga menjadi juara perdana ASEAN menjadi titik penting dalam perjalanan profesionalnya. Setelah lulus dari ITB, ia kemudian memilih jalur yang berbeda dengan masuk ke industri sepak bola, mengembangkan kompetensi sebagai analis, dan secara bertahap memperoleh kepercayaan di level klub hingga akhirnya berada di lingkungan tim nasional.

Dzikri beranggapan, awal transisi akademik dan kariernya tidaklah mudah. Menurutnya, menjadi seorang analis sepak bola harus banyak memahami teknis seputar analisis pertandingan dan observasi juga komunikasi efektif. 

Namun, karena dirinya memiliki passion yang besar, dia mulai belajar analisis sepakbola dari internet, mengambil online course, dan membangun portofolio sendiri. 

“Belajar terus, praktek, dan bangun koneksi. Karier analis itu bisa banget kamu mulai dari nol.” Kata Dzikry yang juga merupakan alumnus Sekolah Analis by Lapangbola.com.

Ketika Indonesia akhirnya mengangkat trofi FIFA ASEAN Cup di Stadion Utama Gelora Bung Karno, Dzikry bukanlah pemain yang mencetak gol penentu ataupun penjaga gawang yang menggagalkan penalti. Ia berada di bagian dari tim yang bekerja di belakang layar.

Di level tertinggi, olahraga telah berkembang menjadi ekosistem yang membutuhkan data, teknologi, analisis, sport science, psikologi, manajemen, komunikasi, hingga strategi.

Di sinilah alumni perguruan tinggi memiliki ruang kontribusi yang semakin luas. Sebelumnya, peran Ratu Tisha Destria (Matematika ITB 2004) di PSSI menjadi contoh kontribusi alumni dalam penguatan tata kelola sepak bola Indonesia. 

Penunjukan Dzikry Lazuardi Z. S. sekaligus menegaskan makna kealumnian ITB sebagai jejaring intelektual yang tidak berhenti pada capaian akademik atau profesional, melainkan terus hidup melalui pengabdian nyata bagi bangsa.  

Topik:
Share:
Facebook
X
LinkedIn
Threads
WhatsApp
Related Post