FENOMENA alumni Institut Teknologi Bandung (ITB) yang kini duduk di kursi kabinet pemerintahan Presiden Prabowo Subianto belakangan menarik perhatian publik.
Tercatat, ada sebanyak 5 menteri alumni ITB di Kabinet Merah Putih. Hal inilah yang kemudian menjadi menarik, mengingat jabatan kelima menteri alumni ITB tersebut tidaklah linear dengan bidang yang dulu dipelajari di kampus ITB.
Hal ini memicu narasi bahwa alumni ITB bisa menguasai ilmu apapun kecuali yang dipelajarinya saat di kampus dulu. Isu ini sendiri awalnya disorot oleh Jurnalis Foto Senior, Arbain Rambey.
Rambey yang juga merupakan alumni Teknik Sipil ITB angkatan 1980 itu, mengunggah gambar daftar alumni ITB yang jadi menteri di media sosial Instagramnya.
“Anak ITB itu menguasai ilmu apapun kecuali yang dipelajarinya di kampus,” kata Rambey dikutip dari unggahannya di Instagram @arbainrambey, pada Rabu 10 September 2025.
Dari daftar tersebut, terlihat jelas adanya jurang antara disiplin ilmu yang ditempuh di bangku kuliah dengan jabatan yang diemban di pemerintahan. Profil kelima menteri alumni ITB dari daftar tersebut adalah:
1. Budi Gunadi Sadikin (Fisika ’83) – Menteri Kesehatan

Lulusan Fisika Nuklir ITB angkatan 1983 ini awalnya berkarier di dunia perbankan, antara lain di Bank Bali dan PT Bank Mandiri Tbk, hingga sempat menjadi Direktur Utama PT Indonesia Asahan Aluminium (Inalum).
Meski bukan berlatar medis, ia dipercaya sebagai Menteri Kesehatan sejak masa pandemi Covid-19 berkat rekam jejaknya dalam manajemen krisis, kepemimpinan korporasi, dan kemampuan mengelola organisasi besar.
2. Yassierli (Teknik Industri ‘93)– Menteri Ketenagakerjaan

Sarjana Teknik Industri ITB angkatan 1993 ini dikenal sebagai akademisi yang fokus pada bidang ergonomi, produktivitas, dan sistem kerja. Kariernya panjang di lingkungan kampus dan riset, termasuk aktif dalam organisasi profesi internasional.
Sebagai Menteri Ketenagakerjaan, Yassierli membawa pendekatan berbasis data dan ilmu sistem untuk meningkatkan kualitas tenaga kerja Indonesia dan merancang kebijakan ketenagakerjaan yang adaptif.
3. Dody Hanggodo (Teknik Perminyakan ‘ 84) – Menteri Pekerjaan Umum

Lulusan Teknik Perminyakan ITB angkatan 1984 ini kemudian melanjutkan studi magister di Amerika Serikat. Ia menghabiskan sebagian besar kariernya di sektor energi, migas, dan infrastruktur, dengan pengalaman di berbagai perusahaan multinasional.
Rekam jejaknya membuat Dody dipercaya untuk memimpin Kementerian Pekerjaan Umum, di mana ia mengusung gagasan efisiensi proyek infrastruktur dan inovasi pembiayaan pembangunan.
4. Prof. Brian Yuliarto (Teknik Fisika ‘94) – Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi

Sarjana Teknik Fisika ITB angkatan 1994 ini melanjutkan studi S2 dan S3 di luar negeri ini dikenal sebagai akademisi produktif dengan penelitian di bidang material cerdas, energi, dan teknologi sensor.
Ia menjabat berbagai posisi penting di ITB, termasuk sebagai Wakil Rektor, sebelum dipercaya masuk kabinet. Dengan latar belakang riset yang kuat, Prof. Brian diharapkan mampu mendorong transformasi pendidikan tinggi Indonesia menuju riset yang berdaya saing global.
5. Purbaya Yudhi Sadewa (Teknik Elektro ‘83) – Menteri Keuangan

Alumnus Teknik Elektro ITB angkatan 1983 ini melanjutkan pendidikan S2 dan doktoral di bidang Ilmu Ekonomi di Amerika Serikat. Purbaya sempat menjadi ekonom senior di Danareksa, Deputi di Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian, hingga menjabat Ketua LPS (Lembaga Penjamin Simpanan).
Rekam jejak akademis dan praktis inilah yang mengantarkannya sebagai Menteri Keuangan, menggantikan Sri Mulyani dengan fokus pada stabilitas fiskal, penguatan sistem keuangan, dan pertumbuhan ekonomi jangka panjang.
Fenomena kontradiktif ini justru menunjukkan bahwa pendidikan sarjana seringkali bukan akhir, melainkan titik awal.
Interpretasi dari fenomena “Alumni ITB Kuasai Ilmu Apapun Kecuali yang Dipelajarinya di Kampus” justru menunjukkan kelebihan lulusan ITB dikenal mampu beradaptasi, mempelajari bidang baru, dan mengaplikasikan keterampilan lintas-disiplin.
Soft skills seperti kepemimpinan, manajemen, dan visi strategis bisa jadi lebih menentukan dibandingkan linearitas jurusan berkat pengalaman karier profesional.
Hal inilah yang tercermin dari lulusan ITB justru terlihat menonjol di bidang-bidang lain berkat kemampuan beradaptasi diluar program studi yang mereka pelajari di bangku kuliah, berkat pengalaman di karier profesional mereka yang dibentuk selama bertahun-tahun lamanya.
Dengan demikian, pernyataan Arbain Rambey bukan sekadar kritik, melainkan refleksi tentang relevansi pendidikan tinggi dengan kebutuhan nyata masyarakat.
Alumni ITB yang kini menjabat menteri membuktikan bahwa ilmu yang dikuasai bisa melampaui batas jurusan, meski hal itu sekaligus memunculkan pertanyaan: apakah sistem pendidikan kita sudah cukup menyiapkan lulusan untuk tantangan lintas-disiplin?





