Alumni ITB Pimpinan BPS RI Ajak Civitas Ikut Sensus Ekonomi 2026, Bangun Kebijakan Berbasis Data

Fachrizal Hutabarat

DI TENGAH tantangan ketidakpastian global, percepatan transformasi digital, serta dorongan hilirisasi industri nasional, kebutuhan akan data ekonomi yang akurat dan komprehensif menjadi semakin krusial. 

Urgensi tersebut disampaikan oleh Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) RI, Amalia Adininggar Widyasanti, mengajak civitas akademika Institut Teknologi Bandung (ITB) untuk mengambil peran aktif dalam menyukseskan Sensus Ekonomi 2026 (SE2026). 

Dalam kunjungannya ke kampus Ganesha pada Rabu, 26 Februari 2026, alumni Teknik Kimia ITB angkatan 1990 itu menegaskan bahwa pembangunan Indonesia ke depan harus bertumpu pada data yang akurat, komprehensif, dan relevan.

“Statistik bukanlah sekadar angka, melainkan penuh makna di balik angka tersebut. Pemerintah membutuhkan intervensi yang tepat melalui data untuk pembangunan Indonesia ke depan,” ujar Amalia saat menyampaikan Studium Generale di Aula Barat ITB, Rabu lalu.

Amalia melanjutkan, bahwa kebijakan publik yang efektif hanya dapat lahir dari basis data yang kuat. Di tengah dinamika ekonomi global, transformasi digital, hingga percepatan hilirisasi industri, negara membutuhkan peta ekonomi yang presisi untuk memastikan setiap kebijakan tepat sasaran.

Hal ini sejalan dengan pandangan Rektor ITB, Prof. Tatacipta Dirgantara.  Menurutnya, data telah menjadi aset strategis yang menentukan arah kebijakan.

“Data adalah sesuatu yang mahal harganya. Kita perlu data yang valid agar kebijakan yang diputuskan benar-benar bermanfaat dan berdampak. Melalui kehadiran Kepala BPS RI, kita berharap mahasiswa mendapatkan wawasan baru bagaimana data disediakan dan dipaparkan menjadi informasi bermakna untuk pengambilan keputusan,” ujar Prof. Tata mengutip dari itb.ac.id.

Melalui momentum ini, kolaborasi antara perguruan tinggi dan lembaga statistik negara menjadi semakin strategis, terutama dalam mendorong pemanfaatan data untuk riset, inovasi, dan perumusan kebijakan berbasis bukti (evidence-based policy).

Peluang Keterlibatan Mahasiswa Bangun Ekonomi Berbasis Bukti

Dalam paparannya, Amalia juga membuka peluang partisipasi mahasiswa dan civitas ITB dalam pelaksanaan Sensus Ekonomi 2026  (SE2026), baik melalui program magang, dukungan teknis, maupun keterlibatan langsung dalam proses pendataan. Ia menyebut momentum ini sebagai kesempatan emas bagi generasi muda untuk memahami secara langsung dinamika ekonomi nasional di lapangan.

Lebih jauh, ia menekankan bahwa hilirisasi riset perguruan tinggi harus berjalan beriringan dengan penguatan basis data nasional. 

“Inovasi akan mendorong produktivitas tinggi jika riset-riset dari universitas dapat dikomersialisasikan dan diaplikasikan langsung di industri,” tuturnya.

Kebijakan publik yang responsif dan tepat sasaran hanya dapat dibangun di atas fondasi statistik yang kuat. Dalam konteks inilah kolaborasi antara perguruan tinggi dan lembaga negara memegang peran strategis untuk memastikan arah pembangunan Indonesia berbasis bukti dan realitas lapangan.

Sensus Ekonomi 2026 sendiri merupakan pendataan menyeluruh terhadap seluruh unit usaha non-pertanian di Indonesia yang dilaksanakan setiap sepuluh tahun sekali oleh BPS. 

Pelaksanaan SE2026 dijadwalkan berlangsung pada 1 Mei hingga 31 Juli 2026, dengan dua pendekatan utama: pengisian mandiri secara daring (self-enumeration) untuk usaha menengah dan besar, serta pendataan lapangan oleh petugas BPS bagi usaha lainnya.

Cakupan sensus meliputi usaha mikro, kecil, menengah, hingga besar di berbagai sektor seperti perdagangan, industri pengolahan, jasa, transportasi, teknologi, dan ekonomi digital. 

Data yang dikumpulkan mencakup jumlah dan karakteristik usaha, sebaran wilayah, tenaga kerja, hingga struktur ekonomi daerah. Hasil SE2026 nantinya akan menjadi dasar penting dalam:

  • Penyusunan kebijakan fiskal dan pembangunan ekonomi nasional
  • Pembaruan basis perhitungan Produk Domestik Bruto (PDB)
  • Penyusunan kerangka sampel survei ekonomi lanjutan
  • Penguatan sistem register bisnis nasional

Dengan pendekatan digital dan pemanfaatan teknologi, termasuk validasi otomatis serta dukungan kecerdasan buatan dalam klasifikasi usaha, SE2026 diharapkan menghasilkan data yang lebih akurat dan efisien.

Sebagai bagian dari penguatan literasi data, ITB dan BPS menghadirkan “Pojok Statistik” di Perpustakaan ITB. Fasilitas ini dapat dimanfaatkan mahasiswa untuk mendukung penelitian dan penyusunan tugas akhir. 

Ia juga memperkenalkan aplikasi AllStats yang memungkinkan masyarakat mengakses data statistik resmi negara secara langsung melalui telepon pintar.

Bagi civitas ITB, keterlibatan dalam Sensus Ekonomi 2026 menjadi wujud nyata kontribusi alumni dan mahasiswa dalam membangun Indonesia yang lebih terukur, terencana, dan berkelanjutan. Data bukan hanya angka, melainkan fondasi arah masa depan bangsa.

Melalui Studium Generale ini, ITB dan BPS berkomitmen memperkuat peran perguruan tinggi sebagai pusat pengembangan ilmu pengetahuan yang berdampak nyata bagi bangsa. 

Melalui kolaborasi dengan BPS RI, ITB mendorong lahirnya generasi yang tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga mampu memanfaatkan data dan riset sebagai dasar pengambilan keputusan, inovasi industri, serta kontribusi strategis dalam pembangunan nasional berbasis bukti.

Topik:
Share:
Facebook
X
LinkedIn
Threads
WhatsApp
Related Post