Saat Para Alumni Penting ITB Bahas Keberlanjutan Strategis Energi Nasional

Fachrizal Hutabarat

PERTEMUAN dua alumni Institut Teknologi Bandung (ITB) kembali terjadi di pusat pengambilan kebijakan strategis nasional. Direktur Utama PT Pertamina (Persero) Simon Aloysius Mantiri bersilaturahmi dengan Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa di kantor Kementerian Keuangan, Jakarta Pusat pada 9 Januari 2025 lalu. 

Pertemuan yang berlangsung sekitar dua pekan lalu ini menjadi bagian dari dialog penting mengenai transformasi Pertamina dan keberlanjutan strategi energi nasional.

Terlepas dari berbagai narasi sensasional di ruang publik, pertemuan ini pada dasarnya adalah silaturahmi strategis di tengah perjalanan transformasi besar yang sedang ditempuh Pertamina.

Dalam konteks transformasi tersebut, salah satu agenda penting yang dibahas adalah rencana merger tiga anak usaha Pertamina di sektor hilir, yakni PT Pertamina Patra Niaga, PT Kilang Pertamina Internasional (KPI), dan PT Pertamina International Shipping (PIS)

Rencana integrasi bisnis hilir kami integrasikan. Jadi, kami akan menggabungkan Kilang Pertamina Internasional, Pertamina Patra Niaga, dan Pertamina International Shipping,” ujar Simon, Jumat, 9 Januari 2026, mengutip dari Antara.

Integrasi ini merupakan bagian dari penyederhanaan struktur bisnis yang sejalan dengan arahan Presiden Prabowo Subianto, agar Pertamina dapat lebih fokus pada bisnis intinya—minyak dan gas, pengolahan dan distribusi energi, serta pengembangan energi baru dan terbarukan.

Rencana merger ini sebelumnya telah disampaikan Simon dalam Rapat Dengar Pendapat bersama Komisi VI DPR RI pada September 2025. Ia menjelaskan bahwa tekanan kinerja keuangan anak usaha tidak terlepas dari kondisi global. 

Di saat yang sama, kapasitas produksi kilang justru meningkat seiring pembangunan kilang-kilang baru. Namun, peningkatan produksi tersebut belum sepenuhnya diimbangi oleh permintaan pasar.

“Kilang ini marginnya semakin kecil. Dengan marginnya semakin kecil, tentu secara keseluruhan, secara konsolidasi, akan berpengaruh kurang baik ke bottom line perusahaan,” kata Simon.

Insentif dan Peran Bendahara Negara

Dalam pertemuan dengan Purbaya, Simon tidak menampik bahwa insentif menjadi salah satu topik yang dibahas, meski belum dirinci lebih jauh bentuk dan skemanya. Diskusi tersebut juga melibatkan jajaran pimpinan Kementerian Keuangan, termasuk para direktur jenderal yang memegang peran penting dalam perumusan kebijakan fiskal, seperti Direktur Jenderal Pajak dan Direktur Jenderal Strategi Ekonomi dan Fiskal.

Bersama Wakil Direktur Utama Pertamina Oki Muraza dan Direktur Keuangan Emma Sri Martini, berbagai langkah dibahas untuk menjawab tantangan anjloknya permintaan dan meningkatnya pasokan, sekaligus memastikan transformasi Pertamina tetap sejalan dengan tujuan besar ketahanan energi dan pertumbuhan ekonomi nasional. Rapat demi rapat dijalani, komunikasi dan advokasi dilakukan untuk menjelaskan situasi secara menyeluruh.

Sementara itu, Direktur Transformasi dan Keberlanjutan Bisnis Pertamina Agung Wicaksono sebelumnya menegaskan bahwa integrasi bisnis hilir ini ditujukan untuk meningkatkan daya saing dan efisiensi pengambilan keputusan. 

“Tentunya ditargetkan bahwa nilai tambah yang lebih besar bagi pemegang saham atau unlock value dapat dilakukan,” kata Agung yang juga merupakan alumni ITB itu.

Silaturahmi yang Mendorong Transformasi

Jika kelak transformasi Pertamina menuju arah yang lebih baik dapat terwujud, silaturahmi strategis ini akan menjadi salah satu fondasinya. 

Dialog yang menjelaskan tantangan kilang, tekanan margin, serta dinamika permintaan dan pasokan, sekaligus meyakinkan bahwa setiap langkah yang diambil ditujukan untuk kontribusi yang lebih besar bagi negeri.

Purbaya dikenal keras dan lugas. Namun justru ketegasan itulah yang mendorong Pertamina untuk bergerak cepat, bekerja lebih keras, dan menuntaskan agenda transformasi. 

Dengan dukungan Bendahara Negara dan jajaran Kementerian Keuangan, integrasi dan pembenahan struktural diharapkan dapat memperkuat Pertamina sebagai saka guru bangsa dalam mewujudkan ketahanan energi Indonesia.

Di balik dinamika kebijakan dan transformasi korporasi tersebut, pertemuan ini juga mencerminkan peran alumni ITB dalam ruang-ruang strategis pengambilan keputusan nasional

Dengan latar keilmuan yang sama dan tradisi berpikir sistemik yang ditempa sejak di kampus, para alumni ITB hadir tidak hanya sebagai pejabat atau eksekutif, tetapi sebagai penggerak perubahan. 

Dari meja diskusi hingga implementasi kebijakan, kontribusi alumni ITB terus mengambil bagian dalam merumuskan arah pembangunan—termasuk memastikan keberlanjutan energi nasional berjalan seimbang antara efisiensi, ketahanan, dan kepentingan bangsa.

Topik:
Share:
Facebook
X
LinkedIn
Threads
WhatsApp
Related Post