CAPAIAN swasembada pangan nasional pada 2025 mendapat apresiasi dari Wakil Sekretaris Jenderal Ikatan Alumni Institut Teknologi Bandung (IA-ITB) 2025-2029, Ilma Mauldhiya Herwandi.
Menurutnya, keberhasilan ini bukan sekadar pencapaian sektoral, melainkan fondasi strategis bagi kemandirian bangsa sekaligus penentu arah kemajuan Republik Indonesia dalam jangka panjang.
Ilma menilai, kemampuan negara memenuhi kebutuhan pangan dari produksi dalam negeri merupakan indikator penting kedaulatan nasional.
Dalam konteks global yang penuh ketidakpastian, swasembada pangan menjadi penyangga stabilitas ekonomi, sosial, dan politik.
“Kemandirian pangan adalah prasyarat dasar bagi sebuah negara untuk menjadi maju. Tanpa kemampuan memenuhi kebutuhan pangannya sendiri, negara akan selalu berada dalam posisi rentan secara ekonomi, politik, dan strategis,” ujarnya mengutip dari energyworld.co.id pada 12 Januari 2026.
Lebih jauh, ia mengaitkan capaian tersebut dengan pengalaman pandemi COVID-19 yang menjadi pelajaran berharga bagi banyak negara.
Krisis global itu menunjukkan bahwa negara dengan basis produksi pangan domestik yang kuat cenderung lebih tangguh menghadapi gangguan rantai pasok dan volatilitas pasar internasional.
“Pandemi memberikan pelajaran penting bahwa ketahanan pangan bukan isu teknis semata, melainkan isu strategis negara,” lanjut Ilma.
Dalam perspektif jangka panjang, swasembada pangan 2025 juga dinilai relevan dengan momentum menuju Indonesia Emas 2045, saat Republik Indonesia genap berusia satu abad.
Ilma melihat capaian ini sebagai langkah awal untuk membangun kekuatan nasional yang berkelanjutan, sekaligus fondasi bagi ambisi Indonesia menjadi salah satu kekuatan ekonomi dunia pada pertengahan abad ini.
Namun demikian, ia menekankan bahwa tantangan tidak berhenti pada status swasembada.
Agenda berikutnya adalah memastikan sistem pangan nasional mampu bertransformasi secara berkelanjutan melalui inovasi teknologi, pertanian presisi, digitalisasi, serta efisiensi rantai pasok dari hulu hingga hilir.
Upaya ini diperlukan agar produktivitas meningkat tanpa mengorbankan aspek lingkungan dan kesejahteraan petani.
Dalam konteks tersebut, Ilma menyoroti peran strategis perguruan tinggi dan alumni, khususnya ITB, dalam mendukung agenda pangan nasional.
Kontribusi riset terapan, pengembangan teknologi, hingga keterlibatan dalam perumusan kebijakan publik dinilai menjadi bagian penting dari ekosistem ketahanan pangan ke depan.
Ia juga mengajak alumni ITB untuk mengambil peran lebih aktif melalui konsolidasi gagasan dan aksi kolektif, termasuk dalam kerangka Gerakan Inovator Nasional 2045 (GIN2).
“Menuju 100 tahun Republik Indonesia, bangsa ini membutuhkan visi bersama dan keberanian untuk bergerak. IA-ITB harus berada di barisan depan sebagai penggerak inovasi, kolaborasi, dan pengabdian nyata demi Indonesia yang berdaulat, maju, dan berkelanjutan,” pungkasnya.
Capaian Swasembada Beras 2025 Adalah Fondasi Utama Kedaulatan Nasional
Presiden Prabowo Subianto sebelumnya juga menegaskan bahwa swasembada pangan merupakan agenda strategis negara yang tidak bisa ditawar.
Dalam berbagai kesempatan, Prabowo menyatakan bahwa kemandirian pangan adalah fondasi utama kedaulatan nasional.
“Tidak ada negara yang benar-benar merdeka kalau tidak bisa memberi makan rakyatnya sendiri. Swasembada pangan adalah soal kedaulatan, soal harga diri bangsa,” ujar Presiden Prabowo mengutip dari Kompas Nasional.
Secara keseluruhan, capaian swasembada pangan 2025 tercermin dari kinerja produksi dan cadangan pangan nasional yang melampaui kebutuhan domestik.
Produksi beras nasional pada 2025 tercatat berada di kisaran 34,7–34,8 juta ton, sementara kebutuhan konsumsi domestik sekitar 31 juta ton, sehingga menghasilkan surplus lebih dari 3 juta ton.
Data Badan Pusat Statistik (BPS) juga menunjukkan produksi beras periode Januari–November 2025 mencapai 33,19 juta ton, meningkat sekitar 12,6 persen dibandingkan tahun sebelumnya.
Kondisi ini membuat Indonesia tidak melakukan impor beras konsumsi sepanjang 2025, sekaligus menandai tonggak kemandirian pangan nasional.
Dari sisi cadangan, stok beras nasional memasuki awal 2026 diperkirakan mencapai 12,5 juta ton, termasuk cadangan beras pemerintah sekitar 3,25 juta ton.
Perum Bulog mencatat stok beras pada akhir 2025 berada di kisaran 3,24 juta ton, bahkan sempat menyentuh 4,2 juta ton, yang disebut sebagai level tertinggi dalam sejarah pengelolaan cadangan pangan nasional.
Tren penguatan cadangan ini juga tercermin dari peningkatan stok beras nasional sepanjang 2025, yang naik signifikan dari sekitar 8,4 juta ton di awal tahun menjadi 14,8 juta ton pada pertengahan tahun.
Penguatan kemandirian pangan tidak hanya terjadi pada komoditas beras. Sepanjang 2025, stok jagung nasional meningkat dari 3,5 juta ton menjadi 5,8 juta ton.
Pada sektor protein hewani, stok daging ayam melonjak dari 83 ribu ton menjadi 548 ribu ton, sementara stok daging sapi dan kerbau naik dari 65 ribu ton menjadi 114 ribu ton.
Kinerja sektor pangan ini turut berdampak pada kesejahteraan petani, tercermin dari Nilai Tukar Petani (NTP) yang mencapai 125,35 pada Desember 2025, tertinggi dalam lebih dari dua dekade terakhir.
Di sisi lain, kontribusi sektor pertanian terhadap perekonomian juga menguat, dengan nilai ekspor pertanian periode Januari–Oktober 2025 mencapai sekitar Rp629,7 triliun, tumbuh 33,6 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Dengan capaian produksi, surplus, dan penguatan cadangan pangan nasional sepanjang 2025, swasembada pangan kini tidak lagi berhenti sebagai target kebijakan, melainkan telah menjadi pijakan strategis menuju ketahanan nasional yang lebih kokoh.
Ke depan, tantangan terbesar adalah menjaga keberlanjutan capaian ini melalui inovasi, tata kelola yang konsisten, serta kolaborasi lintas sektor agar kemandirian pangan benar-benar menjadi modal Indonesia melangkah menuju visi jangka panjang Republik.





