Antara Antusiasme dan Keterbatasan, Prof. Premana Premadi Soroti Potret Astronomi Indonesia 

Fachrizal Hutabarat

KETIKA International Astronomical Union (IAU) mengabadikan nama Prof. Premana Wardayanti Premadi sebagai asteroid 12937 Premadi pada tahun 2017 lalu, dunia memberi penghormatan atas kontribusinya dalam astronomi dunia. 

Menurut Badan Riset Inovasi Nasional (BRIN), pengakuan tersebut diperkuat dengan penganugerahan Honorary Fellow dari Royal Astronomical Society (Inggris) pada 2023, menempatkannya sejajar dengan ilmuwan berpengaruh di tingkat global.

Namun, bagi Prof. Premana, astronomi tidak pernah semata soal prestasi personal atau simbol kehormatan. Ia justru kerap menyoroti realitas yang lebih membumi: minat terhadap astronomi di Indonesia sangat tinggi, tetapi lapangan kerja profesionalnya masih sangat terbatas.

Premana beranggapan, di sisi lain, jalur pendidikan dan karier astronomi formal di Indonesia nyaris tidak bertambah, meski peminatnya banyak. Hingga kini, astronomi hanya diajarkan secara utuh di satu perguruan tinggi, dengan jumlah lulusan yang relatif kecil setiap tahun—dan pilihan profesi sebagai astronom murni yang jauh lebih sedikit lagi.

“Saya melihat alam sebagai sesuatu yang terus memberi, karena itu kita memiliki banyak pertanyaan akan hal itu,” ujar Prof. Premana mengutip dari Natgeo pada 19 Januari 2026.

Dalam pandangannya, Prof. Premana melanjutkan, ketimpangan ini bukan sekadar soal kurangnya peminat, melainkan persoalan ekosistem pendukung. Astronomi sebagai suatu disiplin ilmu mandiri membutuhkan observatorium, kebijakan riset jangka panjang, serta keberlanjutan institusi ilmiah. 

Tanpa itu, banyak talenta yang akhirnya harus mencari jalan lain, bekerja di luar astronomi, meski tetap membawa cara berpikir ilmiah yang ditempa dari mempelajari semesta.

“Manusia merupakan makhluk sosial dan juga berakal budi, jadi sebaiknya kita bisa memanfaatkan hal itu untuk bisa belajar dalam menghargai alam, karena kita adalah bagian dari alam itu sendiri,” lanjut Premana.

Menurut data terhimpun, pernyataan Premana tersebut didukung oleh kondisi astronomi di Indonesia menunjukkan ketimpangan yang jelas antara minat dan dukungan struktural. 

Hingga saat ini, pendidikan astronomi formal hanya tersedia di satu perguruan tinggi, yakni Institut Teknologi Bandung, dengan jumlah mahasiswa aktif di seluruh jenjang yang masih di bawah seratus orang dan kuota mahasiswa baru sekitar 50 orang per tahun (ITB, Tempo). 

Di sisi lain, lapangan kerja astronomi murni sangat terbatas, terkonsentrasi pada segelintir observatorium, lembaga riset, dan posisi akademik, sehingga hanya sebagian kecil lulusan yang benar-benar bekerja sebagai astronom profesional. 

Akibatnya, banyak lulusan astronomi Indonesia berkiprah di sektor lain seperti pendidikan umum, industri berbasis data, media sains, dan kebijakan publik, meskipun minat masyarakat terhadap astronomi terus tumbuh melalui komunitas dan aktivitas nonformal (ITB; Tempo; Himpunan Mahasiswa Astronomi ITB).

Hal Inilah yang menjadi cermin bagi kondisi astronomi Indonesia hari ini: peluang kontribusi tetap terbuka, tetapi sering kali harus dicari di luar jalur konvensional.

Menanggapi masalah tersebut, bagi Prof. Premana, solusinya adalah astronomi tidak berhenti pada profesi “astronom”. Ia melihat kontribusi dapat hadir melalui pendidikan, komunikasi sains, penguatan komunitas, hingga perumusan kebijakan berbasis sains. 

Dalam konteks inilah, komunitas astronomi amatir dan gerakan literasi sains menjadi ruang penting untuk menjaga api ketertarikan publik agar tidak padam, meski jalur kariernya sempit.

Lewat analisis Alumnia, melihat keterbatasan lapangan kerja formal, peluang kontribusi astronom Indonesia justru tetap terbuka lebar apabila dimaknai secara lebih adaptif.

Di luar jalur “astronom murni”, kontribusi dapat hadir melalui kolaborasi riset internasional berbasis data terbuka, keterlibatan dalam pengembangan kebijakan dan ekosistem keantariksaan nasional, hingga peran strategis di industri berbasis analisis data, komputasi, dan kecerdasan buatan. 

Di saat yang sama, astronom juga memiliki ruang besar dalam pendidikan dan komunikasi sains untuk menjembatani ilmu dengan masyarakat, serta dalam penguatan komunitas dan gerakan citizen science yang menjaga literasi astronomi tetap hidup. 

Dengan pendekatan lintas disiplin inilah, astronom Indonesia tetap dapat memberi dampak nyata, meski ekosistem kerja formalnya masih terbatas.

Premana Wardayanti Premadi: Dari Observatorium Bosscha hingga Namanya Diabadikan di Langit 

Prof. Premana Wardayanti Premadi menempuh pendidikan astronomi sejak tingkat sarjana di Institut Teknologi Bandung, tempat ia meraih gelar Sarjana Sains Astronomi pada 1988. 

Perjalanan akademiknya kemudian berlanjut ke Amerika Serikat hingga meraih gelar doktor di bidang astrofisika dari University of Texas at Austin pada 1996. Pencapaian tersebut menempatkannya sebagai perempuan Indonesia pertama yang meraih gelar Ph.D. astrofisika, sekaligus satu-satunya perempuan dan ilmuwan Asia di bidang tersebut di kampusnya pada masa itu.

Dalam ranah keilmuan, Prof. Premana dikenal melalui kontribusinya pada kajian evolusi struktur skala besar alam semesta, khususnya dengan memanfaatkan teknik lensa gravitasi—metode yang berangkat dari teori relativitas umum Einstein untuk mempelajari pembengkokan cahaya oleh massa kosmik. 

Sejak dekade 1990-an, penelitiannya menjadi bagian dari pionir simulasi komputasional kosmologi, yang kemudian berperan sebagai rujukan dalam perancangan berbagai program observasi astronomi global, termasuk Legacy Survey of Space and Time (LSST) serta Nancy Grace Roman Space Telescope.

Selain aktif sebagai peneliti, Prof. Premana juga memiliki pengaruh penting dalam kepemimpinan akademik. Ia menjabat sebagai Kepala Observatorium Bosscha pada periode 2018–2023, dan mencatat sejarah sebagai perempuan pertama yang memimpin observatorium tertua di Indonesia sejak didirikan pada 1923. Dalam berbagai forum ilmiah, ia kerap mengulas keterkaitan kosmologi, mekanika langit, dan gravitasi dengan aplikasi teknologi nyata, mulai dari prinsip gravity assist hingga peran relativitas dalam sistem navigasi global seperti GPS.

Kiprah ilmiahnya di tingkat internasional mendapat pengakuan luas. International Astronomical Union (IAU) mengabadikan namanya sebagai asteroid 12937 Premadi pada 2017, sebuah penghormatan atas kontribusinya dalam astronomi dunia. Pengakuan tersebut diperkuat dengan penganugerahan Honorary Fellow dari Royal Astronomical Society (Inggris) pada 2023, menempatkannya sejajar dengan ilmuwan berpengaruh di tingkat global.

Di luar laboratorium dan observatorium, Prof. Premana juga dikenal sebagai penggerak pendidikan dan literasi sains. Ia terlibat aktif dalam pendirian dan pengembangan gerakan Universe Awareness for Children (UNAWE), yang bertujuan memperkenalkan astronomi kepada anak-anak, termasuk di wilayah tertinggal. 

Baginya, sains tidak cukup berkembang di ruang akademik saja, tetapi harus dibagikan secara luas agar kesenjangan antara kemajuan ilmu pengetahuan dan masyarakat dapat semakin dipersempit.Nama “Premadi” yang kini mengorbit Matahari menjadi simbol paradoks sekaligus harapan. Paradoks karena Indonesia memiliki minat astronomi yang besar tetapi dukungan struktural yang terbatas. 

Harapan karena kisah ini menunjukkan bahwa keterbatasan tidak selalu membatasi kontribusi. Dari ruang kelas, observatorium, hingga orbit asteroid, Prof. Premana menegaskan satu hal: selama rasa ingin tahu dan keberanian berpikir jauh tetap hidup, astronomi Indonesia akan selalu menemukan caranya untuk berkontribusi.

Oleh karena itu, peluang kontribusi astronom Indonesia tetap besar, asal tidak dibatasi oleh definisi sempit profesi. Justru di tengah keterbatasan struktural, astronom Indonesia punya ruang untuk menjadi peneliti global, penggerak literasi sains, perancang kebijakan, hingga inovator lintas disiplin.

Topik:
Share:
Facebook
X
LinkedIn
Threads
WhatsApp
Related Post