KONTRIBUSI alumni Institut Teknologi Bandung (ITB) dalam pembangunan bangsa kembali menemukan relevansinya di berbagai sektor strategis, termasuk di cabang sepakbola nasional.
Seorang alumni ITB, Dzikry Lazuardi (Teknik Geodesi & Geomatika angkatan 2015) diangkat sebagai sebagai Asisten Pelatih Tim Nasional Indonesia. Dzikry pun dipilih sendiri oleh pelatih baru Timnas senior Indonesia, John Herdman.
Kabar penunjukan Dzikry sendiri mulai beredar luas pada 3 Februari 2026 lalu. Prestasi membanggakan ini kemudian mendapat apresiasi luas dari keluarga besar Pengurus Pusat Ikatan Alumni ITB (IA-ITB).
Wakil Sekretaris Jenderal Ikatan Alumni ITB (IA-ITB), Ilma Mauldhiya Herwandi (Teknik Perminyakan 2015), menilai penunjukan Dzikry tersebut bukan sekadar capaian personal, melainkan simbol pengabdian alumni Ganesha bagi bangsa melalui ruang strategis sepak bola nasional.
“Saya melihat ini bukan sekadar capaian personal, tetapi bentuk nyata sembah bakti alumni Ganesha untuk bangsa. Sepak bola adalah ruang strategis yang menyatukan emosi dan harapan jutaan rakyat Indonesia,” ujar Ilma kepada Alumnia pada 4 Februari 2025.
Ilma melanjutkan, penunjukan Dzikry mencerminkan semakin terbukanya ruang kontribusi alumni ITB di berbagai sektor strategis nasional. Ia menegaskan bahwa tanggung jawab moral alumni tidak berhenti pada industri, teknologi, atau kebijakan publik semata, tetapi juga merambah ruang-ruang publik yang memiliki dampak sosial luas, termasuk olahraga.
“Alumni ITB tidak boleh membatasi pengabdian hanya pada sektor-sektor yang dianggap konvensional. Sepak bola nasional adalah ruang publik yang sangat penting dan berpengaruh,” kata Ilma yang sudah akrab mengenal Dzikry.
Selain itu, Ilma menilai kehadiran Dzikry menjadi momentum penting bagi Tim Nasional Indonesia. Untuk pertama kalinya, struktur staf kepelatihan timnas secara resmi diisi oleh sosok analis sepak bola dengan pendekatan ilmiah, berbasis data, dan metodologi modern, yang menjadi keunggulan Dzikry dengan latar belakang Geodesi & Geomatika, namun bukan berlatar belakang mantan pemain profesional.
“Ini langkah yang progresif dan mencerminkan keberanian untuk beradaptasi. Sepak bola modern menuntut pengambilan keputusan yang objektif, terukur, dan berbasis data,” ungkap Ilma.
Dzikry sendiri dikenal memiliki rekam jejak panjang sebagai analis sepak bola profesional. Selepas lulus dari ITB, kariernya dimulai di Sulut United, berlanjut ke Persipura Jayapura, kemudian Persis Solo, hingga dipercaya menjabat sebagai Kepala Analis Persija Jakarta.
Pengalaman lintas klub tersebut membentuk pemahaman yang komprehensif terhadap dinamika sepak bola Indonesia, baik dari sisi teknis, taktis, maupun kompetisi.
Selain pengalaman profesional, Dzikry juga mengantongi Lisensi Kepelatihan C AFC, yang menegaskan kompetensinya dalam struktur kepelatihan sesuai standar Konfederasi Sepak Bola Asia.
Kombinasi Ilmu Teknik dengan Sepak Bola Modern
Dzikry lahir di Bandung pada 4 April 1997. Ia memiliki latar belakang pendidikan di bidang Teknik Geodesi dan Geomatika ITB. Hal itu dinilai semakin relevan dengan kebutuhan sepak bola modern.
Pendekatan analisis spasial, pemetaan pergerakan pemain, hingga pengolahan data performa menjadi elemen penting dalam meningkatkan presisi dan efisiensi permainan.
“Sepak bola hari ini bicara soal ruang, jarak, efisiensi, dan pengambilan keputusan cepat. Apa yang dipelajari di dunia teknik dan analisis sangat aplikatif untuk menjawab kebutuhan itu,” ujar Ilma.
Secara personal, Ilma pun mengungkapkan bahwa dirinya mengenal Dzikry sejak masa SMA di SMAN 3 Bandung dan kembali dipertemukan saat menempuh pendidikan di ITB. Dalam pengamatannya, Dzikry dikenal sebagai pribadi yang konsisten, teliti, dan memiliki daya analisis kuat.
“Sejak dulu saya mengenal Dzikry sebagai sosok yang sangat detail dan disiplin dalam berpikir. Karakter itu sangat penting untuk peran analis di level tim nasional,” tuturnya.
Tradisi Kontribusi Alumni ITB untuk Sepak Bola Nasional
Selain itu, Ilma menilai kehadiran Dzikry dapat memperkaya proses pengambilan keputusan teknis di tubuh Timnas Indonesia. Pendekatan berbasis data diharapkan mampu melengkapi pengalaman praktis para pelatih di lapangan dan menciptakan keseimbangan antara intuisi sepak bola dan analisis objektif.
Ia juga menempatkan kiprah Dzikry sebagai bagian dari kesinambungan kontribusi alumni ITB bagi sepak bola nasional. Sebelumnya, peran Ratu Tisha Destria (Matematika ITB 2004) di PSSI menjadi contoh kontribusi alumni dalam penguatan tata kelola sepak bola Indonesia.
“Tidak semua kontribusi harus datang dari lapangan. Ada peran-peran strategis di balik layar yang sama pentingnya untuk membangun sepak bola nasional yang sehat dan berkelanjutan,” ujarnya.
Sembah Bakti untuk Indonesia
Dalam konteks yang lebih luas, Ilma mengaitkan penunjukan Dzikry dengan Semangat Juang GIN2 (Gerakan Inovator Nasional 2045) yang ia gagas, yang mendorong lahirnya inovator lintas disiplin untuk membawa cara berpikir baru ke sektor-sektor strategis bangsa.
“GIN2 tidak membatasi inovasi pada satu bidang keilmuan. Selama itu membawa kemajuan bagi Indonesia, di situlah inovasi harus hadir. Dzikry adalah contoh konkret bagaimana ilmu, profesionalisme, dan nasionalisme bisa berjalan beriringan,” tegasnya.
Menutup pernyataannya, Ilma menegaskan bahwa penunjukan Dzikry Lazuardi Z. S. merupakan simbol bahwa pengabdian kepada bangsa dapat dilakukan melalui berbagai jalan.
“Pada akhirnya, Tim Nasional bukan hanya soal menang atau kalah, tetapi tentang harga diri bangsa. Ketika anak-anak bangsa terbaik bersedia hadir, bekerja, dan mengabdi dengan sepenuh hati, di situlah Garuda berdiri tegak,” pungkas Ilma.
Penunjukan Dzikry Lazuardi Z. S. sekaligus menegaskan makna kealumnian ITB sebagai jejaring intelektual yang tidak berhenti pada capaian akademik atau profesional, melainkan terus hidup melalui pengabdian nyata bagi bangsa.
Di berbagai bidang, dari industri, kebijakan publik, hingga olahraga nasional, alumni ITB diharapkan hadir membawa integritas, keilmuan, dan semangat kontribusi. Dalam konteks inilah, kiprah Dzikry menjadi cerminan bahwa nilai Ganesha tidak hanya tumbuh di kampus, tetapi terus bergerak dan bermakna bagi Indonesia.





