Langkah Stephanus Widjanarko, Dari ITB Menuju Ajang F1 Internasional untuk Generasi Indonesia

Fachrizal Hutabarat

INDONESIA kini punya alasan untuk berbangga di dunia balap Formula 1. Pasalnya, Stephanus Widjanarko, insinyur alumni ITB, tercatat sebagai bagian dari proyek Cadillac Formula 1, tim anyar yang akan menjalani debut pada musim F1 2026. 

Alumnus Teknik Mesin Institut Teknologi Bandung (ITB) angkatan 2004 ini meniti karier jauh dari sorotan kamera. Setelah menyelesaikan studi sarjana di ITB, Stephanus melanjutkan pendidikan magister di University of Twente, Belanda tahun 2009, dengan fokus pada aerodinamika dan dinamika fluida. 

Pilihan jalur akademik tersebut menjadi fondasi kuat yang kelak membawanya masuk ke industri motorsport paling kompetitif di dunia. Stephanus pun mengaku bahwa hal ini sudah menjadi mimpinya sejak awal untuk menembus Formula 1.

“Ini merupakan salah satu mimpi dan cita-cita saya. F1 sebagian besar dipengaruhi oleh papa dan om-om saya yang penggemar F1. Saya jadi berpikir sepertinya menarik kalau bekerja di F1,” katanya mengutip dari Swa.co.id pada 19 Januari 2025.

Kariernya di Formula 1 dimulai pada 2013 saat bergabung dengan Scuderia Toro Rosso (kini AlphaTauri) sebagai CFD Aerodynamicist. 

Selama lebih dari satu dekade, Stephanus terlibat dalam pengembangan engineering dari berbagai komponen aerodinamika krusial, mulai dari sayap depan, nose, hingga optimalisasi aliran udara yang menjadi kunci performa mobil F1 modern. 

Pengalaman panjang tersebut kemudian membawanya ke Andretti Global, sebelum akhirnya dipercaya Sebagai Lead Engineer Aero Development di Cadillac Formula 1 Team, ia memimpin desain aerodinamika mobil F1.

Menariknya, nama Stephanus bahkan tercantum pada livery mobil saat sesi pengujian awal, sebuah penanda bahwa ia bukan sekadar pelengkap, melainkan bagian dari fondasi teknis tim baru yang ingin bersaing di grid Formula 1.

Kisah Stephanus menunjukkan bahwa kehadiran Indonesia di F1 tidak harus selalu lewat jalur pembalap. 

Di balik 20 kursi pembalap, ada ribuan profesional yang bekerja di bidang teknik, data, manufaktur, dan strategi. Di sinilah peluang Indonesia sesungguhnya terbuka.

Namun, kisah perjalanan insinyur alumni ITB hingga terlibat langsung di dapur teknis Formula 1 masih menjadi pengecualian, belum menjadi pola yang jamak direplikasi oleh talenta Indonesia. 

Meski Indonesia pernah mencatatkan nama pembalap seperti Rio Haryanto dan Sean Gelael di panggung balap internasional, keterlibatan tersebut lebih banyak hadir di garis depan lintasan, bukan pada peran strategis yang menggerakkan performa tim dari balik layar. 

Padahal, Formula 1 adalah industri teknologi tinggi yang bertumpu pada ribuan insinyur, analis data, dan perancang sistem. 

Karena itu, agar ke depan semakin banyak figur seperti Stephanus Widjanarko, yang berkontribusi langsung pada jantung pengembangan tim, Indonesia perlu membangun upaya yang lebih terstruktur untuk meningkatkan keterlibatan dan daya saing talenta nasional di ekosistem Formula 1 dan industri motorsport global.

Syarat Generasi Indonesia Bisa Meningkatkan Daya Saing di Ajang F1

Secara keseluruhan, peningkatan keterlibatan Indonesia di industri F1 dan otomotif internasional bukan persoalan satu jalur atau satu figur, melainkan hasil dari kombinasi pendidikan yang tepat, pengalaman praktis, jaringan global, ekosistem pendukung, dan keberanian memanfaatkan peluang internasional.

Mengutip dari berbagai sumber, untuk meningkatkan keterlibatan orang Indonesia agar mampu berkontribusi dan bersaing di industri Formula 1 maupun ajang otomotif internasional, fondasi paling mendasar adalah pendidikan dan penguasaan keterampilan teknis yang relevan dengan kebutuhan industri global. 

Pembalap Indonesia Rio Haryanto pernah menggambarkan perjalanan menuju Formula 1 sebagai proses panjang.

“Tidak ada jalan instan ke Formula 1. Semua harus dimulai dari bawah, dari karting, lalu terus naik setahap demi setahap,” katanya.

Dunia motorsport modern bertumpu pada ilmu terapan seperti aerodinamika, simulasi CFD, material komposit, telemetri, hingga data science. 

Pendidikan teknik di Indonesia perlu diarahkan lebih aplikatif melalui proyek nyata, kompetisi internasional seperti Formula Student atau Baja SAE, serta penguatan kemampuan bahasa Inggris teknis agar lulusan siap berinteraksi di lingkungan kerja multinasional.

Di luar ruang kelas, pengalaman industri melalui program magang dan kerja praktik menjadi jembatan penting menuju standar profesional internasional. Magang di perusahaan otomotif, pusat riset, atau tim balap, baik di dalam maupun luar negeri, memberi pemahaman tentang budaya kerja, teknologi mutakhir, dan jaringan global. 

Hal tersebut juga yang membawa Stephanus Widjanarko sebagai langkah awal menuju karier di ajang balap internasional.

Program magang nasional yang terstruktur juga dapat berfungsi sebagai batu loncatan, asalkan dimanfaatkan untuk membangun portofolio teknis yang kuat dan terukur.

Keterlibatan di dunia motorsport juga perlu dibangun sejak dini dan secara bertahap. Baik bagi pembalap maupun engineer, jalur menuju F1 hampir selalu dimulai dari level bawah. 

Pembalap umumnya meniti karier dari karting, sementara tenaga teknis dapat mengasah kemampuan melalui tim balap kampus, komunitas motorsport, atau ajang balap non-F1 seperti GT Racing, WEC, Formula E, dan IndyCar. Jalur bertahap ini penting untuk membangun jam terbang sekaligus reputasi profesional.

Selain kompetensi teknis, jejaring dan eksposur global memainkan peran krusial. Industri F1 sangat berbasis jaringan, rekomendasi, dan rekam jejak. 

Partisipasi dalam konferensi, workshop, kompetisi internasional, serta pemanfaatan jaringan alumni dan komunitas profesional dapat membuka akses ke peluang yang sebelumnya sulit dijangkau. 

Kehadiran di ekosistem global membuat talenta Indonesia lebih terlihat dan relevan di mata industri.

Upaya individu tersebut akan jauh lebih efektif jika ditopang oleh ekosistem lokal yang mendukung. Keberadaan komunitas otomotif yang aktif, akademi balap, pusat pelatihan teknik, serta kolaborasi antara kampus dan industri dapat menciptakan ruang belajar yang berkelanjutan. 

Ekosistem ini berfungsi sebagai tempat uji coba, berbagi pengetahuan, dan mempertemukan talenta dengan peluang nyata di tingkat internasional.

Terakhir, peluang juga datang dari inisiatif dan program internasional yang mendorong keberagaman dan inklusivitas di dunia motorsport. 

Beberapa ajang dan organisasi global, termasuk Formula 1, membuka program beasiswa, pelatihan, dan magang bagi talenta dari negara yang selama ini kurang terwakili. 

Jika dimanfaatkan secara serius, program-program ini dapat menjadi pintu masuk strategis bagi generasi baru profesional otomotif Indonesia. Sehinga, generasi penerus Stephanus Widjanarko selanjutnya bisa berpotensi besar muncul di kancah internasional dan mengharumkan nama bangsa di kancah internasional.

Topik:
Share:
Facebook
X
LinkedIn
Threads
WhatsApp
Related Post