PENGURUS Daerah Ikatan Alumni Institut Teknologi Bandung (ITB) Aceh berencana menggagas Program Bangkit dari Lumpur sebagai upaya memulihkan sektor pertanian pascabencana banjir bandang yang melanda wilayah Bireuen, Aceh, pada akhir November 2025.
Pante Lhong ditetapkan sebagai lokasi percontohan program ini karena dinilai memiliki potensi strategis untuk inovasi sekaligus replikasi di wilayah lain.
Program Bangkit dari Lumpur difokuskan pada dua komoditas utama, yakni padi gogo dan jeruk pamelo, yang selama ini menjadi sumber penghidupan masyarakat setempat. Kegiatan pemulihan direncanakan berlangsung mulai Januari hingga Agustus 2026, dengan melibatkan kolaborasi lintas pemangku kepentingan.
“Akan kami lakukan dari Januari sampai Agustus ini. Kami berharap kolaborasi dari banyak pihak,” ujar Mulkan Fadhli dari Ikatan Alumni ITB Aceh saat memaparkan program tersebut secara daring dalam Workshop Pemulihan Pascabencana Sumatera di Aula Timur ITB, Senin, 12 Januari 2026.
Mulkan menjelaskan, kawasan Pante Lhong memiliki sawah dengan sistem tadah hujan, yang menjadi bagian dari karakter pertanian Kabupaten Bireuen.
Wilayah ini tercatat sebagai salah satu sentra tanaman pangan, dengan 445 desa menjadikan pertanian sebagai subsektor utama, dan sekitar 88,89 persen desa menggantungkan perekonomian pada sektor pertanian.
Namun, kondisi tersebut sekaligus membuat pertanian Bireuen rentan terhadap bencana hidrometeorologi, terutama banjir yang terjadi berulang.
Selain itu, pemilihan Pante Lhong sebagai lokasi percontohan didasarkan pada empat keunggulan utama. Pertama, lahan sawah padi gogo berada di dekat Sungai Krueng Peusangan, sehingga memiliki akses air yang relatif mudah.
Kedua, lahan percobaan seluas satu hektare berstatus tanah wakaf, sehingga dinilai aman dan berkelanjutan. Keunggulan ketiga adalah keberadaan pusat unggulan ekonomi jeruk pamelo, sedangkan keunggulan keempat terletak pada modal sosial yang kuat dari kelompok-kelompok tani setempat.
Sebelum penanaman padi gogo dilakukan, lahan sawah akan dibersihkan terlebih dahulu dari endapan lumpur sisa banjir. Selanjutnya, tanah akan dilapisi pupuk organik dan dilengkapi dengan sistem drainase mikro. Menghadapi kondisi lahan pascabencana yang cenderung keras dan miskin unsur hara, tim memilih varietas Inpago 13 Fortiz sebagai padi gogo unggulan.
“Mungkin jenis padi ini bisa dikritisi teman-teman kampus sehingga kami bisa memilih varietas yang benar-benar baik,” kata Mulkan.
Untuk memulihkan kesuburan tanah, diperkirakan dibutuhkan sekitar 25 ton pupuk organik per hektare. Dengan pendekatan tersebut, hasil panen diproyeksikan mencapai 5–6 ton gabah kering giling per hektare dalam waktu empat hingga lima bulan masa tanam.
Selain padi, program ini juga menaruh perhatian besar pada penyelamatan jeruk pamelo yang terancam mati akibat tertimbun lumpur keras.
Upaya yang dilakukan adalah dengan menggali endapan lumpur di sekitar pangkal batang secara hati-hati agar pohon kembali memperoleh sirkulasi udara dan terhindar dari pembusukan batang.
“Targetnya 80–120 batang pohon jeruk pamelo akan diselamatkan, dengan proyeksi tingkat keberhasilan sekitar 80 persen,” ujar Mulkan.
Melalui Program Bangkit dari Lumpur, alumni ITB Aceh berharap Pante Lhong tidak hanya pulih dari dampak bencana, tetapi juga menjadi model pemulihan pertanian berbasis kolaborasi, inovasi, dan ketahanan bencana yang dapat diterapkan di wilayah rawan bencana lainnya.





