Alumni ITB, Agung Saputra Raih Penghargaan Internasional dari Imperial College London

Fachrizal Hutabarat

SEBUAH kabar membanggakan datang dari alumni ITB yang meraih penghargaan internasional. Founder startup Surplus, Muh Agung Saputra (BI’13) tercatat sebagai salah satu penerima Alumni Entrepreneur Award 2026 dari Imperial College London (ICL).

Penghargaan bergengsi itu diberikan kepada alumni ICL yang dinilai berhasil membangun usaha berkelanjutan dengan pertumbuhan bisnis nyata sekaligus dampak sosial yang terukur. 

Penghargaan ini menempatkan Agung di jajaran alumni Imperial yang dianggap mampu “mengubah dunia lewat kewirausahaan”, sejajar dengan pelaku usaha global yang berhasil menggabungkan inovasi, kepemimpinan, dan kontribusi positif bagi masyarakat.

“Indonesia merupakan salah satu negara dengan persoalan limbah makanan terbesar di dunia,” kata M. Agung Saputra terkait urgensinya mendirikan Surplus.

Perjalanan Agung membangun Surplus berangkat dari pengalaman hidupnya sejak kecil di Papua, ketika isu keterbatasan pangan bukan sekadar wacana, melainkan realitas sehari-hari. 

Pengalaman tersebut membentuk kepekaannya terhadap ketimpangan akses pangan, yang kemudian semakin kontras ketika ia pindah ke Jakarta dan menyaksikan besarnya pemborosan makanan di kawasan urban.

Ketertarikan Agung pada isu lingkungan membawanya melanjutkan studi magister ke Imperial College London dalam prodi Environmental Technology. 

Di sana, ia tidak hanya mempelajari aspek teknis lingkungan, tetapi juga rantai pasok pangan, perilaku konsumen, dan kebijakan lingkungan, yang kelak menjadi fondasi lahirnya Surplus Indonesia.

“Saya sempat mempertanyakan diri sendiri. Mengapa saya masih mencoba menyelesaikan masalah ini? Mengapa tidak menyerah saja? Namun kemudian saya berpikir, jika saya tidak memulainya, saya tidak tahu siapa yang akan menyelesaikan persoalan ini,” lanjut Agung.

Surplus Indonesia dan Model Bisnis Berdampak

Surplus kemudian didirikan sebagai platform climate tech pada tahun 2020, Surplus Indonesia menghubungkan restoran, kafe, dan pelaku usaha dengan konsumen untuk mendistribusikan produk berlebih yang masih layak konsumsi dengan harga terjangkau. 

Pendekatan ini menciptakan solusi atas persoalan limbah makanan, ketahanan pangan, dan emisi lingkungan secara bersamaan.

“Pada 2020, pekerjaan ini belum dianggap menarik. Namun saya percaya bahwa melalui Surplus, kami bisa mengedukasi konsumen dan pasar tentang limbah. Seiring waktu, kami mulai bisa menembus cara pandang tersebut,” kata Agung.

Secara kuantitatif, setelah itu Surplus telah menyelamatkan ratusan ribu produk berlebih dan mencegah lebih dari 10.000 ton limbah berakhir di tempat pembuangan akhir. Upaya ini berkontribusi pada pengurangan emisi karbon hingga jutaan kilogram CO₂e.

Dari sisi ekonomi, Surplus telah membantu ribuan hingga lebih dari 10.000 mitra usaha mengurangi potensi kerugian finansial hingga miliaran rupiah.

Selain dampak sosial dan lingkungan, Surplus juga menunjukkan pertumbuhan bisnis yang kuat. Perusahaan ini mencatat pertumbuhan pendapatan bulanan di atas 20 persen, dengan peningkatan tahunan yang mencapai ratusan persen. 

Basis penggunanya telah menembus lebih dari satu juta orang, mencerminkan penerimaan luas terhadap model bisnis ekonomi sirkular.

“Kami telah membantu satu juta masyarakat berpenghasilan rendah dan menengah untuk mendapatkan akses pangan—itulah dampak yang kami hasilkan,” kata Agung.

Inovasi juga terus dikembangkan, termasuk Surplus AI untuk membantu pelaku usaha memprediksi stok dan mengurangi pemborosan sejak hulu, serta ekspansi kategori produk di luar sektor makanan.

Deretan Penghargaan dan Pengakuan Global

Selain Alumni Entrepreneur Award 2026 dari Imperial College London, kiprah Agung dan Surplus Indonesia telah memperoleh berbagai pengakuan nasional dan internasional. 

Pada 2024, Agung terpilih masuk dalam daftar Forbes Asia 30 Under 30 kategori Consumer Technology, menandai pengakuan global atas inovasi teknologi berdampak sosial yang ia bangun.

Pada tahun yang sama, ia juga meraih APEC Bio-Circular-Green (BCG) International Award 2024 kategori Youth, menjadikannya satu-satunya perwakilan Indonesia yang menerima penghargaan tersebut atas kontribusinya dalam mendorong ekonomi sirkular dan ekonomi hijau di kawasan Asia-Pasifik.

Pengakuan internasional berlanjut pada 2025, ketika Agung meraih UNDP Impact Award dalam ajang SDG Sprint 2025 yang diselenggarakan oleh UNDP dan Citi Foundation, berkat kontribusi Surplus Indonesia terhadap pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs).

Sementara itu, Surplus Indonesia sebagai entitas bisnis juga menerima sejumlah apresiasi, antara lain ASEAN Digital Awards, Tempo Circular Economy Award, serta berbagai penghargaan lain yang menegaskan posisinya sebagai startup berdampak di kawasan Asia-Pasifik.

Bagi Agung, berbagai penghargaan tersebut bukanlah tujuan akhir, melainkan penegasan bahwa pendekatan kewirausahaan yang berorientasi pada dampak sosial dan lingkungan memiliki tempat di panggung global. 

Ia menegaskan bahwa ukuran keberhasilan bukan semata pertumbuhan bisnis, melainkan seberapa banyak orang yang merasakan manfaat dari solusi yang dibangun.

Topik:
Share:
Facebook
X
LinkedIn
Threads
WhatsApp
Related Post