Seminar Alumni ITB ’80 Tekankan Peran Industri Saintek untuk Indonesia Emas 2045

Fachrizal Hutabarat

UPAYA mewujudkan visi Indonesia Emas 2045 tidak bisa ditunda. Tantangan global yang kian kompetitif menuntut lompatan besar dalam produktivitas nasional, penguatan industri berbasis sains dan teknologi, serta pembangunan SDM unggul. 

Kesadaran inilah yang mendorong Ikatan Alumni ITB Angkatan 1980 (IA ITB ’80) menggelar Seminar Nasional “Urgensi, Strategi, dan Roadmap Transformasi Teknologi, Industri, dan SDM Menuju Indonesia Emas 2045” di Aula Timur, Kampus ITB Ganesha, Bandung, Jumat 31 Januari 2026 lalu.

Seminar ini juga menjadi ruang dialog strategis yang mempertemukan kalangan pemerintah, akademisi, industri, dan alumni untuk merumuskan langkah konkret menuju target besar 100 tahun Indonesia merdeka. Pada seminar itu turut hadir Rektor ITB, Prof Tatacipta Dirgantara dan Mendiktisaintek, Prof Brian Yuliarto.

“Sebagai alumni ITB angkatan 1980 yang mayoritas dari kami sudah purna tugas, kami tidak ingin hanya memberikan dukungan moral. Kami juga ingin memberikan sumbangsih pemikiran, pengalaman, dan jejaring yang kami miliki di pemerintah, industri, dunia usaha, maupun dunia akademik,” ujar Catur Irianto selaku  Ketua Umum Alumni ITB 80 saat membuka jalannya acara seminar.

Catur menambahkan, kesadaran bahwa Indonesia tengah berada pada fase krusial menuju Indonesia Emas 2045, di tengah tantangan global yang semakin kompleks, kompetisi antarnegara yang kian ketat, serta laju transformasi teknologi yang sangat cepat. Oleh karena itu, menurut Catur, Indonesia dinilai tidak lagi memiliki kemewahan waktu untuk bertumbuh secara biasa-biasa saja.

Sementara itu, Rektor ITB, Prof. Dr. Ir. Tatacipta Dirgantara, M.T., mengapresiasi inisiatif Alumni ITB 80 dan menegaskan pentingnya kolaborasi lintas sektor. Ia menekankan perlunya menyatukan arah dan kekuatan seluruh pemangku kepentingan agar gagasan strategis tidak berhenti pada tataran wacana, tetapi dapat bertransformasi menjadi implementasi nyata.

“Kita tahu bahwa kita sekarang ada di posisi negara berpenghasilan menengah dan negara berpenghasilan menengah kalau mau jadi negara berpenghasilan tinggi jadi negara maju kuncinya bukan lagi hanya sekedar menggali tanah kemudian menjual tanah itu. Kuncinya adalah sumber daya manusia dan teknologi,” kata Prof. Tatacipta.

Selain itu, salah satu benang merah diskusi adalah kebutuhan akan pertumbuhan ekonomi konsisten di kisaran 7–8 persen per tahun, yang hanya dapat dicapai melalui industrialisasi berbasis riset, inovasi, dan kualitas SDM.

Industri Berbasis Sains Jadi Kunci Pertumbuhan Ekonomi


Menurut Mendiktisaintek, Brian Yuliarto, situasi global saat ini semakin kompleks dan penuh ketidakpastian, mulai dari isu perubahan iklim, kompetisi penguasaan mineral strategis, pesatnya perkembangan kecerdasan buatan, hingga meningkatnya tensi geopolitik.

Ia menilai, dinamika tersebut sejatinya membuka peluang bagi negara berkembang seperti Indonesia, sepanjang mampu meresponsnya dengan memperkuat fondasi industri berbasis sains dan teknologi.

Dalam konteks ini, perguruan tinggi memegang peran kunci karena industri berskala besar membutuhkan dukungan sumber daya manusia dengan keterampilan berisiko tinggi (high-risk skills), riset, serta inovasi yang berkelanjutan.

Brian menekankan bahwa alumni ITB memiliki posisi strategis dalam ekosistem tersebut. Dengan bekal kompetensi, pengalaman, dan jejaring yang luas, bahkan sebagian telah terlibat langsung di sektor industri, kolaborasi antara alumni dan kampus dapat mendorong riset yang lebih relevan dengan kebutuhan industri.

“Alumni memiliki sumber daya manusia, pengalaman, dan jejaring yang luas, bahkan sebagian memiliki industri. Kolaborasi ini memungkinkan perguruan tinggi melakukan riset yang langsung mendukung kebutuhan industri,” ujar Brian Yuliarto saat menjadi pembicara utama di seminar tersebut.

Lebih lanjut, ia menjelaskan bahwa Kemendiktisaintek saat ini mengembangkan program riset hilirisasi sebagai jembatan antara kebutuhan industri dan kapasitas riset perguruan tinggi. 

Melalui skema tersebut, industri dapat menyampaikan kebutuhan riset dan inovasi yang dibutuhkan, sementara kementerian akan memfasilitasi peneliti dan guru besar yang relevan, termasuk dukungan pendanaan.

Menurut Brian, pendekatan ini diharapkan mampu memperkuat daya inovasi industri nasional, meningkatkan produktivitas, serta mendorong lahirnya industri yang lebih berdaya saing dan berkelas.

“Fokus utama kami adalah bidang sains dan teknologi. Dalam kondisi saat ini, Indonesia membutuhkan industri berbasis sains dan teknologi, terlebih dengan kekayaan mineral yang kita miliki,” katanya.

Ia juga mengungkap sejumlah tantangan struktural yang dihadapi Indonesia, seperti stagnasi industrialisasi sejak 2013, minimnya penyerapan tenaga kerja berpendidikan tinggi di sektor industri, serta gejala deindustrialisasi. 

Untuk menjawab tantangan tersebut, kolaborasi riset hilirisasi antara perguruan tinggi dan industri terus didorong, dengan dukungan pendanaan pemerintah agar hasil riset benar-benar dapat diimplementasikan.

Melalui seminar ini, IA ITB ’80 menegaskan komitmen alumni untuk terus berkontribusi dalam agenda strategis nasional. Bukan hanya lewat gagasan, tetapi juga melalui kolaborasi nyata antara alumni, kampus, industri, dan pemerintah. 

Dengan fondasi riset yang kuat, hilirisasi teknologi yang terarah, serta SDM unggul yang adaptif, visi Indonesia Emas 2045 diharapkan tidak sekadar menjadi slogan, melainkan capaian bersama yang terukur dan berkelanjutan.

Topik:
Share:
Facebook
X
LinkedIn
Threads
WhatsApp
Related Post