IKATAN alumni Teknik Geologi ITB (IAGL ITB) kembali menunjukkan kontribusinya dalam membangun masa depan keilmuan geologi Indonesia.
Pada dua momentum yang sama, IAGL ITB menegaskan perannya sebagai penghubung antara dunia akademik dan kebutuhan strategis nasional, sebuah gerak yang berpijak pada keyakinan bahwa kekuatan bangsa tumbuh dari ilmu yang kokoh, riset yang relevan, dan kolaborasi yang saling menguatkan.
Langkah pertama terlihat melalui dukungan renovasi Laboratorium Geologi Lingkungan ITB lantai 4.di Gedung Geologi ITB.
Pada 1 November lalu, IAGL ITB menyerahkan donasi sebesar Rp100 juta sebagai bentuk komitmen memperbaiki sarana pembelajaran dan penelitian bagi mahasiswa Teknik Geologi ITB dan peneliti di kampus.
Penyerahan dukungan dilakukan secara simbolis Ketua Umum IAGL ITB, Abdul Bari pada kegiatan Seminar Nasional Logam Tanah Jarang 2025 yang berlangsung di Auditorium Badan Geologi, Bandung.
Menurutnya, dukungan ini lahir dari kesadaran kolektif para alumni untuk memperkuat fondasi keilmuan sejak dari bangku kampus.
“Alumni (Geologi ITB) harus hadir sebagai energi masa depan yang memperkuat kolaborasi kampus, industri, dan negara. Kemandirian bangsa tumbuh dari ilmu yang berdaya guna dan riset yang mendorong kemajuan peradaban Indonesia,” kata Ketua Umum IAGL ITB, Abdul Bari, mengutip dari kabaralam.com.
Renovasi laboratorium ini diharapkan dapat meningkatkan kualitas sarana pembelajaran dan penelitian di bidang geologi lingkungan, sekaligus memperkuat posisi ITB sebagai pusat unggulan keilmuan geologi di Indonesia.
IAGL ITB sinergikan akademisi, industri, dan pemerintah dalam pengembangan logam tanah jarang (LTJ)

Di saat yang sama, IAGL ITB juga mendorong sinergi akademisi, industri, dan pemerintah dalam pengembangan logam tanah jarang (LTJ), salah satu mineral kritis yang berperan penting dalam teknologi masa depan pada Seminar Nasional Logam Tanah Jarang 2025 di Auditorium Museum Geologi Bandung.
Forum ini menghadirkan berbagai tokoh strategis, antara lain Mendiktaisntek/Kepala Badan Industri Mineral, Prof. Brian Yuliarto, S.T., M.Eng., Ph.D.; Ketua Komisi XII DPR RI, Dr. Bambang Patijaya, S.E., M.M.; dan Rektor ITB, Prof. Dr. Ir. Tatacipta Dirgantara, M.T. Para pembicara menegaskan pentingnya sinergi kebijakan, riset, dan industri untuk mempercepat penguasaan teknologi mineral kritis di Indonesia.
IAGL ITB menginisiasi forum lintas sektor untuk membahas arah kebijakan nasional pengelolaan Logam Tanah Jarang, elemen penting bagi industri pertahanan dan transisi energi bersih.
Melalui forum tersebut, IAGL ITB mempertemukan para pengambil kebijakan, peneliti, pelaku industri, serta akademisi guna menyelaraskan arah kebijakan, kesiapan pasokan, dan strategi pengembangan industri LTJ nasional.
Abdul Bari menyampaikan bahwa penguasaan rantai pasok mineral kritis merupakan langkah strategis menuju kemandirian bangsa.
“Penguasaan rantai pasok mineral kritis sama dengan penguatan pertahanan negara. Indonesia harus memastikan kemandirian teknologi melalui industri LTJ yang berdiri untuk kepentingan nasional,” ujarnya mengutip dari itb.ac.id.
Seminar yang diinisiasi oleh para alumni ITB ini menjadi wujud kontribusi nyata sivitas akademika ITB dalam mendukung visi nasional untuk membangun industri mineral berkelanjutan.
Hasil seminar ini diharapkan dapat menjadi rekomendasi kebijakan nasional, termasuk usulan pembentukan Proyek Strategis Nasional (PSN) Logam Tanah Jarang, yang sejalan dengan Asta Cita Presiden Republik Indonesia, Prabowo Subianto.
Visi tersebut menekankan pentingnya kemandirian bangsa melalui penguatan pertahanan, industrialisasi, dan hilirisasi sumber daya strategis bernilai tambah dalam negeri.
Dua langkah ini tidak berdiri sendiri. Renovasi laboratorium memperkuat kapasitas akademik dan riset di kampus, sementara dorongan terhadap pengembangan LTJ mempertegas peran geologi dalam kebijakan industri strategis nasional.
Bersama-sama, keduanya membentuk satu garis besar yang memperlihatkan bagaimana IAGL ITB merajut ekosistem geologi Indonesia dari hulu hingga hilir—mulai dari ruang praktikum mahasiswa hingga industri berteknologi tinggi yang menjadi masa depan bangsa.
Semangat kolaborasi ini menjadi fondasi kuat bagi lahirnya generasi peneliti, insinyur, dan pemimpin yang siap membawa Indonesia menuju kemandirian mineral kritis dan keunggulan teknologi.





