BENCANA hidrometeorologi yang lebih dulu melanda sejumlah wilayah di Sumatra menjadi sinyal awal bagi daerah lain untuk meningkatkan kewaspadaan.
Pakar Hidrometeorologi Institut Teknologi Bandung (ITB), Armi Susandi, mengingatkan bahwa pola cuaca ekstrem tersebut berpotensi bergeser dan meluas ke Pulau Jawa menjelang akhir tahun, bertepatan dengan meningkatnya mobilitas masyarakat pada masa libur Natal dan Tahun Baru.
Dalam perbincangan publik, Armi menjelaskan bahwa fenomena cuaca ekstrem yang terjadi bukan peristiwa terpisah, melainkan bagian dari siklus atmosfer regional.
Setelah Sumatra mengalami curah hujan tinggi, gelombang ekstrem tersebut secara bertahap bergerak ke wilayah Jawa, sebelum kemudian berlanjut ke kawasan timur Indonesia.
“Kalau saya hitung, potensi cuaca sangat ekstrem di Jawa terjadi sekitar tujuh sampai delapan hari ke depan,” ujarnya dari pantauan langsung di kanal YouTube Sindonews pada 24 Desember 2025.
Armi melanjutkan, Potensi cuaca ekstrem ini membawa berbagai risiko turunan, mulai dari hujan lebat berkepanjangan, longsor di wilayah perbukitan, angin puting beliung di kawasan permukiman, hingga gelombang tinggi di perairan.
Armi juga menyoroti wilayah Jawa Barat sebagai salah satu daerah yang perlu perhatian khusus, mengingat karakter geografisnya yang didominasi perbukitan dan jalur transportasi darat yang rawan longsor, terutama saat malam hari ketika tanda-tanda alam sulit terdeteksi.
Tidak hanya daratan, wilayah pesisir juga menghadapi ancaman serius. Armi mengingatkan potensi rob dan banjir pesisir, khususnya di kawasan Jakarta Utara, yang selama ini masih ditangani dengan solusi sementara.
“Potensi tertinggi biasanya terjadi pada Januari dan Februari, yang merupakan puncak musim hujan di Jawa, termasuk Jakarta. Desember biasanya masih berada di wilayah Sumatra, lalu bergeser ke Jawa dan kemudian ke Indonesia bagian timur,” kata Amri.
Menurutnya, kegagalan membatasi masuknya air laut ke daratan akan terus memicu genangan berulang, terlebih ketika hujan lebat berbarengan dengan pasang laut. Kondisi ini berpotensi mengganggu aktivitas ekonomi, pendidikan, hingga mobilitas harian masyarakat.
Dalam konteks libur akhir tahun, Armi mendorong perubahan cara pandang masyarakat terhadap aktivitas perjalanan.
Penyesuaian waktu keberangkatan, pemilihan moda transportasi, hingga alternatif destinasi wisata menjadi langkah mitigasi sederhana namun krusial.
Untuk perjalanan darat di daerah pegunungan, waktu siang dinilai lebih aman, sementara transportasi laut dan udara disarankan dilakukan pada pagi hari saat kondisi atmosfer relatif stabil.
“Tanggal 31 Desember hingga 1 Januari perlu diwaspadai, khususnya di Jakarta dan wilayah perbukitan. Saya sarankan masyarakat selalu punya opsi alternatif liburan, seperti wisata kuliner, budaya, atau museum. Dengan begitu, tetap bisa berlibur tanpa mengambil risiko besar,” kata Amri.
Lebih jauh, Armi menekankan pentingnya literasi cuaca dan kepercayaan terhadap informasi resmi. Di tengah derasnya arus informasi di media sosial, masyarakat diimbau menjadikan BMKG sebagai rujukan utama, bukan narasi viral yang kerap menimbulkan kepanikan tanpa dasar ilmiah.
Ia juga menyoroti perlunya koordinasi lintas lembaga—mulai dari BMKG, pemerintah daerah, hingga instansi teknis—agar peringatan dini tidak berhenti pada data, tetapi berujung pada kebijakan yang konkret dan terukur.
Menurut BMKG, potensi cuaca ekstrem yang terjadi di Pulau Sumatra bukan sekadar fenomena terpisah — tetapi merupakan bagian dari pola atmosfer yang lebih luas yang kini mulai berdampak pada Pulau Jawa menjelang periode Natal dan Tahun Baru.
BMKG secara resmi memetakan wilayah rawan hujan tinggi di Jawa, Bali, dan Nusa Tenggara selama periode Natal dan Tahun Baru, termasuk potensi gelombang laut hingga 2,5 meter di Selat Bali sebagai dampak bibit siklon tropis 93S.
Selain itu, menurut situs BMKG, Dalam periode 19–25 Desember 2025, BMKG juga melaporkan adanya bibit siklon tropis 93S dan 95S yang terbentuk di perairan selatan Indonesia, menyebabkan hujan lebat hingga sangat lebat di sejumlah wilayah seperti Jawa Barat, Jawa Tengah, Yogyakarta, serta Bali. Di Bali, hujan intensitas tinggi tercatat mencapai 91,3 mm per hari, sedangkan di Papua Barat mencapai 71,5 mm per hari.
BMKG telah mengeluarkan peringatan dini cuaca ekstrem di berbagai wilayah Indonesia, termasuk Jawa, pada rentang waktu 19–25 Desember menjelang libur Natal.
Menurut Armi, saat ini tantangannya terletak pada tata kelola lingkungan, kesiapan infrastruktur, dan konsistensi penegakan hukum. Tanpa perbaikan di ketiga aspek ini, cuaca ekstrem akan terus berulang menjadi bencana, bukan sekadar fenomena alam musiman.
Menjelang penutup tahun, peringatan Armi menjadi pengingat bahwa kesiapsiagaan tidak bisa bersifat reaktif. Perpindahan dampak bencana dari Sumatra ke Jawa bukan sekadar prediksi cuaca, melainkan ajakan untuk membaca pola alam dengan lebih serius—agar perayaan akhir tahun tetap berlangsung, tanpa mengorbankan keselamatan.





